kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kinerja emiten rokok terhambat kenaikan cukai, berikut rekomendasi saham HMSP


Senin, 13 September 2021 / 19:08 WIB
Kinerja emiten rokok terhambat kenaikan cukai, berikut rekomendasi saham HMSP
ILUSTRASI. Kemenperin tinjau fasilitas produksi HM Sampoerna di Rungkut, Surabaya.


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri rokok masih menghadapi jalan yang terjal seiring dengan lemahnya daya beli masyarakat selama masa pandemi Covid-19. Hal ini berujung terjadinya aksi downtrading ke rokok yang harganya lebih murah. Di satu sisi, tekanan tarif cukai juga menjadi salah satu permasalahan karena menekan marjin laba kotor emiten rokok.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) misalnya, pada semester I-2021, emiten rokok ini hanya mencatatkan marjin laba kotor sebesar 18,6%. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, marjin laba kotor HMSP masih sebesar 21,8%.

Alhasil, laba bersih HMSP turun 15,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp 4,1 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Baca Juga: Outlook belum membaik, Panin Sekuritas rekomendasikan hold saham HM Sampoerna (HMSP)

Analis RHB Sekuritas Michael Wilson Setjoadi menjelaskan, pelebaran cukai rokok dan para perokok yang melakukan downtrading ke rokok yang lebih murah memang menjadi masalah bagi kinerja HMSP. 

Namun, ia melihat, manajemen HMSP merespons keadaan tersebut dengan cukup baik melalui peluncuran produk baru.

 

Belum lama ini, HMSP memang meluncurkan Sigaret Putih Tangan (SPT) pertamanya, yakni Marlboro Craft 12s, yang disebut Michael mendapat tanggapan positif dari pasar. Selain itu, HMSP juga meluncurkan Dji Sam Soe Elite pada bulan Agustus, yang termasuk dalam kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT) premium.

“Langkah positif lain yang dilakukan HMSP adalah dengan memonetisasi merek premium untuk memperkuat kategori Sigaret Kretek Mesin (SKM). Seperti yang diketahui, Marlboro dan Sampoerna A dipandang sebagai merek Sigaret Putih Mesin (SPM) premium yang kuat, HMSP mencoba mengubah nama produk mereka dengan menempelkan brand kedua jenis rokok tersebut,” kata Michael ketika dihubungi Kontan.co.id, Senin (13/9).

Michael menjelaskan, cara yang dilakukan HMSP adalah dengan mengubah nama produk U Mild menjadi Sampoerna A Ultra Mild. Menurutnya, langkah ini agar bisa mendapatkan daya tarik yang lebih tinggi di pasar kelas menengah tingkat-1 (yang menjadi target U Mild).

Selain itu, karena tarif cukai rokok putih tidak menguntungkan, HMSP juga meluncurkan Marlboro Advance 12s, rokok yang masuk kategori Sigaret Kretek Manual (SKM). 

Michael bilang, masyarakat menganggap Marlboro sebagai rokok premium, jadi walaupun Marlboro Advance 12s sebenarnya merupakan SKM, diharapkan perokok mempersepsikan bahwa rokok tersebut layaknya SPM namun dengan harga SKM.

“Langkah HMSP ini merupakan respons yang positif untuk menyiasati kondisi industri saat ini. Adanya produk-produk baru tersebut akan membantu meningkatkan volume penjualan HMSP,” imbuh Michael.

Hanya saja, secara umum, Michael memperkirakan margin yang diperoleh akan relatif menyempit karena persaingan harga yang lebih ketat, dan perokok yang lebih memilih produk dengan harga yang lebih murah.

Sementara analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya dalam risetnya pada 30 Juli memperkirakan HMSP akan melihat lebih banyak kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini seiring dengan volume penjualan dan tingkat profitabilitas yang lebih seimbang.

Oleh karena itu, ia melihat penyesuaian (Average Selling Price) ASP tidak akan mengimbangi kenaikan cukai secara keseluruhan. 
Menurutnya, marjin HMSP masih akan menurun di kuartal-kuartal mendatang meskipun segmen SKT diuntungkan dari tidak adanya kenaikan cukai dan jadi preferensi perokok saat ini.

“Menurut kami PPKM Darurat mungkin sedikit berdampak negatif terhadap volume penjualan produk premium HMSP karena pembatasan makan di luar. Dengan demikian, membebankan cukai kepada konsumen akan lebih sulit diterapkan,” imbuh Christine.

Baca Juga: Saham big cap: IHSG naik, EMTK turun 3 hari, CPIN, DCII, ASII naik tertinggi

Adapun, untuk tahun ini, Christine memproyeksikan HMSP akan membukukan pendapatan sebesar Rp 93,05 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 7,56 triliun.

Christine saat ini masih mempertahankan rekomendasi hold untuk saham HMSP dengan target harga Rp 1.150 per saham.

Terkait rekomendasi, Michael justru menilai saat ini saham HMSP berada dalam posisi yang menarik lantaran harganya yang terdiskon dan valuasinya juga menarik karena berada di 11x P/E 2022. Ia pun menaikkan rating untuk HMSP dari netral menjadi beli dengan target harga Rp 1.400 per saham.

“Harga saham HMSP sudah terkoreksi hingga 35% secara year to date, di mana level saat ini mungkin sudah mencapai bottomnya,” jelas Michael

Saham HMSP pada hari ini, Senin (13/9) diperdagangkan melemah 10 point atau 1% ke Rp 995 per saham.

Selanjutnya: Strategi HM Sampoerna (HMSP) tingkatkan kinerja di tengah tekanan cukai rokok

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×