kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45845,50   -13,12   -1.53%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kinerja Emiten Konstruksi Swasta Masih Beragam, Simak Rekomendasi Sahamnya


Minggu, 19 Mei 2024 / 20:10 WIB
Kinerja Emiten Konstruksi Swasta Masih Beragam, Simak Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Kinerja emiten konstruksi swasta di tahun 2024 masih akan lambat dibayangi oleh era suku bunga yang tinggi.


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten konstruksi swasta di tahun 2024 masih akan lambat dibayangi oleh era suku bunga yang tinggi. Para emiten pun mencatatkan kinerja yang masih beragam di kuartal I 2024.

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) berhasil mengantongi pendapatan usaha pendapatan usaha Rp 818,87 miliar di kuartal I 2024. Ini naik 32,31% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 618,86 miliar pada kuartal I-2023. Laba bersih TOTL melonjak 77,60% YoY menjadi Rp 52,71 miliar di kuartal I 2024.

PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) mencatat pendapatan Rp 715,01 miliar di kuartal I 2024, naik 9,6% YoY dari Rp 652,19 di periode sama tahun lalu. Laba bersih NRCA sebesar Rp 28,75 miliar di kuartal I 2024, turun 0,28% YoY dari Rp 28,83 miliar di kuartal I 2023.

Di sisi lain, PT Acset Indonesia Tbk (ACST) mencatatkan kenaikan rugi di kuartal I 2023. Rugi setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 42,49 miliar di kuartal I 2024, naik 42,3% YoY dari rugi Rp 29,86 miliar di kuartal I 2023. Kerugian itu dialami ACST di tengah kenaikan pendapatan bersih 52,59% YoY ker Rp 549,86 miliar.

Baca Juga: Penyaluran Kredit ke Sektor Smelter Diproyeksikan Ngegas Tahun Ini

Dari raihan nilai kontrak, TOTL mencatatkan nilai kontrak baru sebesar Rp 1,6 triliun di kuartal I 2024. Sementara, NRCA mencatatkan raihan kontrak baru sebesar Rp 1,35 triliun di kuartal I 2024.

Vice President Head of Investor Relations SSIA, induk NRCA, Erlin Budiman mengatakan, raihan itu naik 92,5% dibandingkan dengan kontrak baru pada kuartal I 2023 yang sebesar Rp701,7 miliar.

Proyek utama yang diperoleh pada kuartal I 2024 adalah RS Mayapada IKN Kalimantan Timur, Hampton Square Tangerang Selatan, Hotel JSI Megamendung Bogor, Daimler Cikarang Bekasi, Proyek Ellipse SAS Fase-1 Karawang, dan Dipo Center Jakarta.

“Lalu, Paket 2 Infrastruktur Subang Smartpolitan, Shopping Arcade Town Center 3 Kota Baru Parahyangan Padalarang Bandung, Tempo Logistik Bekasi, serta Desain & Bangun Perumahan Townsite Nusa Tenggara Barat,” ungkapnya kepada Kontan.co.id, Jumat (17/5).

Baca Juga: SMBR Optimistis Permintaan Semen Bertumbuh pada Semester II-2024

Dengan gambaran tersebut, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat bahwa kinerja TOTL masih memimpin di antara emiten konstruksi swasta pada kuartal I 2024.

“Raihan nilai kontrak serta kinerja top line dan bottom line TOTL berhasil tumbuh di kuartal I 2024,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (17/5).

Di kuartal I 2024, sentimen utama yang mempengaruhi kinerja emiten konstruksi swasta adalah pemulihan ekonomi yang mendorong permintaan proyek konstruksi.

“Kemudian, pembangunan infrastruktur pemerintah, seperti jalan tol dan bendungan memberikan peluang bagi emiten konstruksi swasta,” ungkap dia.

Baca Juga: Jasa Marga: Progres Konstruksi Pembangunan Tahap 1 Probolinggo-Besuki Capai 35,84%

Di tahun 2024, kinerja emiten konstruksi swasta diproyeksikan masih bertumbuh. Sentimen pendorongnya adalah proyek pembangunan IKN. Tetapi tantangan seperti suku bunga tinggi dan persaingan akibat peleburan emiten BUMN Karya tetap ada.

“Isu peleburan BUMN Karya ini dampaknya tidak terlalu negatif. Hanya saja, persaingannya bisa semakin menarik, melihat masing-masing punya rekan jejak bisnis yang berbeda-beda,” tuturnya.

Sukarno pun merekomendasikan trading buy untuk TOTL dan NRCA dengan target harga masing-masing Rp 540 per saham dan Rp 380 per saham. Sementara, ACST masih direkomendasikan wait and see, karena masih merugi.

“Untuk TOTL dan NRCA, secara valuasi sahamnya masih tergolong rendah,” paparnya.

Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, ACST masih merugi akibat beban konstruksi yang masih tinggi di tengah kenaikan pendapatan.

“Sentimen pendorong kinerja emiten konstruksi swasta ini pada dasarnya dipengaruhi seberapa besar volume nilai kontrak yang bisa diperoleh serta arus kas dari kontrak yang dikerjakan,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (17/5).

Baca Juga: Dua Sentimen Tekan Kinerja Emiten Semen di Kuartal I 2024, Ke Depan Masih Optimistis

Reza pun melihat potensi kegiatan konstruksi maupun pemeliharaan proyek konstruksi masih positif. Ini seiring dengan semakin banyaknya proyek pembangunan dan pemeliharaannya.

Di sisi lain, era suku bunga tinggi akan membebani kinerja emiten konstruksi swasta. Dampaknya bisa ke penurunan permintaan kredit, sehingga membuat ekspansi proyek pembangunan menjadi tersendat.

“Kita juga harus memperhatikan akan ada kerja sama apa antara emiten konstruksi swasta dengan para BUMN Karya. Keduanya sudah punya pangsa pasar masing-masing, sehingga kemungkinan besar justru akan saling kolaborasi,” tuturnya.

Reza merekomendasikan beli untuk NRCA, ACST, dan TOTL dengan target harga masing-masing Rp 374–Rp 380 per saham, Rp 138–Rp 140 per saham, dan Rp 515–Rp 520 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




Kontan Academy
Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung Negotiation For Everyone

[X]
×