kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.818   19,00   0,11%
  • IDX 8.925   -19,34   -0,22%
  • KOMPAS100 1.227   -4,69   -0,38%
  • LQ45 868   -3,70   -0,43%
  • ISSI 323   -0,54   -0,17%
  • IDX30 440   -3,19   -0,72%
  • IDXHIDIV20 519   -1,77   -0,34%
  • IDX80 137   -0,51   -0,37%
  • IDXV30 144   -0,52   -0,36%
  • IDXQ30 141   -1,08   -0,76%

Kinerja Emiten CPO Masih Prospektif pada 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya


Rabu, 07 Januari 2026 / 19:19 WIB
Kinerja Emiten CPO Masih Prospektif pada 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Kinerja emiten sawit dinilai masih akan prospektif di tahun 2026, didorong oleh permintaan crude palm oil (CPO) yang masih terjaga. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten sawit dinilai masih akan prospektif pada tahun 2026, didorong oleh permintaan crude palm oil (CPO) yang masih terjaga.

Emiten CPO juga masih optimistis dengan kinerja mereka di tahun depan. Misalnya, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) melihat permintaan CPO di tahun 2026 masih tetap baik, terutama dari pemerintah yang mendorong B40.

Sebaliknya, produksi para produsen sawit diperkirakan akan terkontraksi dan tidak akan banyak pertumbuhan. Alhasil, harga CPO diprediksi akan tetap kuat di tahun depan.

Dengan kondisi itu, penjualan SGRO juga ditargetkan bisa ikut meningkat sesuai dengan kondisi harga dan permintaan. Untuk perubahannya, nanti akan mengikuti tingkat persediaan TBS dan CPO perseroan di tahun ini, apakah lebih rendah atau justru lebih tinggi.

Hitungan kasarnya, target pertumbuhan penjualan di tahun 2026 sekitar 3% ditambah seberapa banyak marjin persediaan SGRO tahun ini.

Baca Juga: IHSG Cetak Rekor All Time High 8.944, Begini Proyeksi Pergerakan Besok (8/1)

Pertumbuhan penjualan itu sejalan dengan target produksi CPO dan tandan buah segar (TBS) yang tumbuh di kisaran 3%-5% di tahun 2026.

“Tapi tidak akan jauh (dari 3%), karena inventory kami tidak terlalu banyak, biasanya sekitar 10-20 ribu ton saja per tahun,” ujar Direktur Utama SGRO, Budi Setiawan Halim dalam Public Expose SGRO beberapa waktu lalu.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila melihat, permintaan biodiesel masih tinggi di tahun 2026. Kondisi itu juga ditambah dengan belum ada panen lanjutan akibat musim hujan di akhir tahun 2025, sehingga produksi CPO berkurang.

“Namun, diproyeksikan harga CPO bergerak cukup moderat di tahun ini. Jadi, kebijakan B50 bisa jadi sentimen menengah-panjang di tengah pergerakan harga CPO yang masih cukup volatil,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).

Melansir Trading Economics, harga CPO saat ini ada di level MYR 4.035 per ton. Ini turun 1,44% dalam sebulan terakhir dan terkoreksi 0,37% year to date (YTD).

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe melihat, koreksi harga CPO di awal tahun biasanya terjadi lantaran adanya kelebihan pasokan usai panen raya di akhir tahun sebelumnya.

Jika kebijakan B50 diterapkan, harga CPO di tahun 2026 bisa ada di kisaran MYR 4.000 - MYR 4.200 per ton. “Sementara, produksi nasional hanya tumbuh 1%-2% lantaran masih banyak kebun sawit yang replanting,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga: IHSG Naik 0,13% ke 8.944, Top Gainers LQ45: INCO, ANTM dan ADRO, Rabu (7/1)

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, prospek emiten CPO di 2026 cenderung lebih konstruktif, terutama ditopang oleh kenaikan permintaan domestik seiring implementasi penuh B50.

Kebijakan itu akan meningkatkan serapan CPO dalam negeri secara signifikan dan berpotensi mengubah struktur permintaan dari yang sebelumnya sangat bergantung pada ekspor.

Dengan porsi demand domestik yang lebih besar dan bersifat lebih stabil, volatilitas harga dapat ditekan. “Itu pun sekaligus membuka ruang kenaikan average selling price (ASP) para emiten relatif terhadap kondisi saat ini,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah menambahkan, sejauh ini belum ada katalis yang dapat membuat kinerja saham-saham CPO mengalami penguatan yang signifikan.

“Ada baiknya investor menunggu sampai dengan cuaca ekstrem berlalu terlebih dahulu,” katanya kepada Kontan, Rabu (7/1/2026). Alhasil, Fath pun belum memberikan rekomendasi untuk saham emiten CPO.

Menurut Azis, valuasi emiten CPO saat ini masih relatif undervalue. Misalnya, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) yang saat ini punya price to earning ratio (PER) berada di 12,26x dan PER rata-rata tiga tahun (avg 3Y) berada di 14,53x.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,14% ke 8.946 pada Sesi I Rabu (7/1), INCO, NCKL, ANTM Top Gainers LQ45

Azis pun merekomendasikan trading buy untuk SSMS dengan target harga Rp 1.640 - Rp 1.665 per saham, dengan level support di Rp 1.525 - Rp 1.500 per saham.

Indy bilang, saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) bisa dipantau dengan target harga Rp 1.430 per saham. “Tetapi, tetap hati-hati dengan volatilitas harga CPO di tahun 2026,” tuturnya.

Sementara, Kiswoyo merekomendasikan beli untuk LSIP, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dengan target harga jangka panjang masing-masing Rp 2.000 per saham, Rp 12.000 per saham, dan Rp 1.000 per saham.

Selanjutnya: Penjualan SBN BCA Tembus Rp 40 Triliun Sepanjang 2025

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Kamis 8 Januari 2026, Kerja Cerdas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×