kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45975,16   -1,28   -0.13%
  • EMAS916.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.19%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Kelanjutan moratorium sawit belum jelas, efeknya akan terlihat tiga tahun lagi


Kamis, 23 September 2021 / 20:51 WIB
Kelanjutan moratorium sawit belum jelas, efeknya akan terlihat tiga tahun lagi
ILUSTRASI. Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Pematang Raman, Kumpeh, Muarojambi, Jambi.

Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung kelanjutan program moratorium perluasan lahan kelapa sawit. Sekretaris Jenderal Kementan Kasdi Subagyono mengatakan, moratorium sawit akan memberikan manfaat bagi perbaikan kebun sawit di Indonesia, salah satunya adalah optimalisasi produktivitas buah sawit.

Meskipun begitu, keputusan akhir berlanjut atau tidaknya program ini ada di tangan Presiden Joko Widodo. Mengingat, program moratorium sawit yang sebelumnya berlaku dijalankan atas Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit Serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit.

Masa berlaku Instruksi Presiden tersebut telah berakhir pada 19 September 2021 lalu. Hingga saat ini, pemerintah masih belum membuat aturan terbaru untuk kelanjutan program tersebut.

Baca Juga: Begini rencana penggunaan dana hasil penjualan saham treasury Bukit Asam (PTBA)

Analis Phillip Sekuritas Michael Filbery menilai, berakhirnya moratorium pembukaan lahan baru perkebunan sawit di Indonesia dapat menjadi salah satu sentimen pemberat harga crude palm oil (CPO) dalam jangka panjang. Pasalnya, dihentikannya moratorium ini berpeluang menambah pasokan CPO global dalam beberapa mendatang.

Menurut Michael, pengaruhnya baru akan terlihat 3-4 tahun ke depan seiring dengan waktu yang dibutuhkan untuk proses pembibitan sampai dengan tandan buah segar (TBS) bisa berbuah. "Kalau moratoriumnya tidak diperpanjang sekarang, pengaruhnya lonjakan produksi CPO baru akan terlihat tiga tahun lagi," kata Michael saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (23/9).

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa isu moratorium sawit tidak menjadi sentimen kuat bagi pergerakan harga CPO maupun saham CPO saat ini. Menurut Michael, sentimen yang lebih berpengaruh justru berasal dari luar sektor perkebunan, yakni adanya potensi gagal bayar perusahaan properti asal China Evergrande Group.

Baca Juga: Kelanjutan moratorium sawit belum jelas, begini rekomendasi saham CPO

"Turbulensi perusahaan tersebut memiliki implikasi yang cukup besar bagi perekonomian China sehingga dikhawatirkan ada efek domino dalam sistem perekonomian China, termasuk supply-demand secara agregat," tutur Michael.

Meskipun begitu, masih ada beberapa saham CPO yang masih layak untuk dicermati. Michael merekomendasikan akumulasi beli saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga Rp 11.000 per saham dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) Rp 1.300 per saham. Pada perdagangan Kamis (23/9), harga AALI naik 0,59% menjadi Rp 8.475 per saham dan LSIP naik 0,47% ke Rp 1.080 per saham.

Michael memilih kedua saham tersebut karena memiliki kinerja keuangan yang solid, posisi keuangan yang kuat, dan valuasi saham yang murah. AALI dan LSIP juga dinilai memiliki sensitivitas bottom line yang cukup tinggi terhadap kenaikan harga rata-rata CPO.

Baca Juga: Kementan menyetujui kelanjutan moratorium sawit

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
The Hybrid Salesperson The New Way to Sell in The New Era Certified Supply Chain Manager (CSCM) Batch 2

[X]
×