Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Asia berada di zona merah di tengah pengumuman kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) pada Kamis (15/10/2026).
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 2,16% ke level 5.814,42 hingga perdagangan pukul 14.15 WIB.
Bursa Asia lainnya, seperti indeks KOSPI (Korea Selatan) anjlok 7,5%, Nikkei 225 (Jepang) anjlok 4,9%, Hang Seng Index (Hong Kong) turun 1,26%, Shanghai Composite Index (Shanghai) melemah 1,59% dan Straits Times Index (Singapura) tertekan 0,56%.
Chief Economist dan Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan koreksi bursa Asia hari ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter AS setelah inflasi kembali melampaui perkiraan.
Kekhawatiran utamanya bukan hanya inflasi yang masih tinggi, tetapi kemungkinan The Federal Reserves (The Fed) perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga tambahan.
Baca Juga: Inflasi AS dan Lonjakan Harga Minyak Bayangi Pergerakan IHSG
Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham, terutama pada pasar dan sektor yang sebelumnya telah mencatat kenaikan cukup besar.
Ini juga menjelaskan mengapa tekanan cukup tajam terjadi pada bursa Asia yang memiliki eksposur besar terhadap teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Namun, Rully belum melihat satu data inflasi sebagai alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa The Fed harus kembali menaikkan suku bunga secara agresif.
"Kami masih memperkirakan terminal Fed Funds Rate di 4,25%, dengan satu tambahan kenaikan 25 basis poin sebelum The Fed mengevaluasi dampak pengetatan yang telah dilakukan," kata Rully kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).
Ke depan, perkembangan inflasi bulanan, terutama core inflation akan semakin penting untuk menentukan apakah tekanan harga mulai meluas atau masih didominasi oleh dampak kenaikan harga energi.
Untuk IHSG, tekanan global ini datang ketika pasar domestik masih menghadapi sentimen yang relatif lemah. Maka dari itu, volatilitas berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek.
Meski demikian, Rully melihat koreksi pasar juga perlu dibedakan antara tekanan terhadap valuasi akibat kenaikan yield global dan perubahan fundamental masing-masing emiten.
Baca Juga: Hadapi Dinamika Pasar di Kuartal IV-2026, Begini Strategi Investasi dari AllianzGI
Menurut Rully, risikonya memang meningkat. Yield US Treasury yang tetap tinggi memperbesar daya tarik aset dolar AS dan meningkatkan tingkat imbal hasil yang diharapkan investor ketika menempatkan dana di emerging markets, termasuk Indonesia.
Bagi investor asing, pelemahan rupiah juga menjadi pertimbangan penting karena dapat mengurangi return investasi ketika dikonversi ke dolar AS.
Maka, kombinasi yield AS yang tinggi dan tekanan nilai tukar berpotensi membuat investor tetap berhati-hati terhadap aset Indonesia.
Namun, Rully juga membedakan antara risiko foreign outflow yang meningkat dengan kepastian bahwa arus keluar akan terus membesar. Pergerakan modal asing tetap dipengaruhi oleh valuasi, prospek laba emiten, dan persepsi risiko domestik.
"Menurut kami, tekanan terhadap rupiah juga tidak sepenuhnya ditentukan oleh selisih suku bunga. Pergerakan dolar AS, mata uang utama lainnya, dan perubahan risk appetite global sering kali memiliki pengaruh yang lebih besar dalam jangka pendek," jelas Rully.
Di sisi domestik, Bank Indonesia juga telah melakukan pengetatan kebijakan secara front-loaded sebesar 100 basis poin.
Karena itu, ruang untuk merespons tekanan eksternal melalui kenaikan suku bunga tambahan perlu mempertimbangkan kondisi likuiditas dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Secara keseluruhan, Rully melihat risiko terhadap IHSG dan rupiah masih cukup tinggi dalam jangka pendek. Namun, untuk prospek menengah, dirinya tetap melihat peluang pemulihan pasar saham secara selektif, terutama pada emiten dengan fundamental yang kuat dan valuasi yang sudah lebih menarik.
"Jadi, higher for longer memang memperpanjang tekanan terhadap aset Indonesia, tetapi tidak otomatis berarti tekanan tersebut akan terus meningkat tanpa batas. Arah inflasi AS, yield Treasury, dan stabilitas rupiah akan menjadi faktor penting yang menentukan kapan sentimen pasar mulai membaik," tambah Rully.
Secara terpisah, Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya, memperkirakan skenario paling mungkin adalah The Fed menahan suku bunga, tetapi memberi sinyal masih akan menaikkannya pada Desember. Meski demikian, peluang kenaikan bunga mencapai hampir 31%, sehingga investor perlu tetap waspada.
Baca Juga: Wilton Makmur (SQMI) Berpotensi Ganti Pengendali Tidak Langsung
"Jika The Fed terdengar lebih lunak, bursa Asia bisa pulih dan rupiah menguat. Namun, apabila bunga benar-benar naik, bursa Asia bisa turun lagi, terutama Korea (KOSPI) dan Jepang (Nikkei) yang sudah anjlok hari ini," terang Hendry.
Risiko suku bunga tinggi lebih lama tetap besar meski penahanan bunga menjadi skenario dasar. Dengan Fed Funds Rate di level 4,00% dan yield US Treasury yang tinggi, selisih imbal hasil dengan BI Rate sebesar 5,75% menyempit. Di sisi lain, net sell asing telah mencapai sekitar Rp 111 triliun sepanjang tahun berjalan.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 31,6% membuat rupiah, yang kini bergerak di kisaran Rp 17.956 per dolar AS, berisiko menembus level Rp 18.000.
Menurut Hendry, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Oktober bisa menjadi penentu lebih awal, sebab kenaikan BI Rate atau intervensi agresif dari BI bisa meredam tekanan sebelum FOMC.
Hendry menyusun tiga skenario untuk IHSG hingga pertengahan November. Dalam skenario pesimis, IHSG bergerak di 5.500–5.700 jika bunga naik dan rupiah menembus Rp18.000.
Pada skenario moderat, IHSG berada di 5.700–6.000 jika bunga ditahan, serta pada level optimis, IHSG naik ke 6.100–6.250 apabila The Fed bernada lunak.
Hendry menyebut batas bawah penting untuk IHSG berada di 5.700–5.800, sedangkan batas atas di 6.000–6.150.
Baca Juga: IHSG Anjlok 2,05%, Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah Jadi Beban
Disisi lain, Hendry juga menilai kelompok saham yang paling rentan meliputi, saham energi, batu bara, dan bahan baku, lalu perusahaan yang punya banyak utang dolar, saham properti dan konsumen yang sensitif terhadap bunga serta saham bank dan perusahaan besar yang sedang dijual asing.
Karena risiko kenaikan bunga cukup nyata, Hendry menyarankan investor menghindari utang untuk membeli saham atay margin dan tidak menambah posisi besar saat pasar bernada bearish. Investor juga dianjurkan menyisakan dana tunai dan menetapkan batas kerugian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














