kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Jadi instrumen paling cuan, emas bakal jadi jawara hingga akhir 2020


Selasa, 30 Juni 2020 / 22:24 WIB
ILUSTRASI. Harga emas. REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Handoyo

Untuk itu, bagi investor tradisional Eko merekomendasikan kepemilikan emas milik Aneka Tambang (Antam). Meskipun tren harga emas tersebut cenderung dikendalikan oleh perusahaan, investor bisa memilih tempat lain untuk melakukan penjualan atau memaksimalkan capital gain. 

Sedangkan untuk investor yang memiliki profil sebagai investor modern bisa melakukan trading atau kontrak derivatif saat melirik instrumen investasi emas. Investor jenis tersebut cenderung memiliki risiko lebih tinggi. "Meskipun emas bisa jadi pilihan ke depan, namun kenaikannya tidak akan setinggi semester I-2020," tekan Eko.

Sementara itu, Eko menjelaskan pertumbuhan obligasi korporasi di enam bulan pertama 2020 dikarenakan banyak investor saham yang mengalihkan investasinya ke instrumen obligasi korporasi. Dibandingkan instrumen saham atau properti, investor cenderung melirik obligasi korporasi yang lebih aman dan minim risiko.

"Apalagi, dengan tren suku bunga turun ke depan, prospek obligasi dan emas cenderung positif atau naik di sisa 2020," ujarnya. 

Baca Juga: Stabilitas eksternal membaik, Ekonom BCA prediksi cadangan devisa bulan Juni naik

Ke depan, Eko lebih merekomendasikan investor untuk melirik instrumen obligasi baik korporasi maupun pemerintah, dengan potensi return sekitar 10%. Selain mendapatkan cashflow dari kupon, investor juga bisa mendapatkan capital gain dari instrumen tersebut. Sedangkan untuk emas, meskipun positif, potensi kenaikannya cenderung terbatas.

Untuk investor yang berencana investasi di jangka panjang bisa melirik reksadana saham. "Bisa alokasikan 75% ke reksadana pendapatan tetap dan 25% bisa ke reksadana saham," jelasnya. 

Untuk instrumen valas sendiri, menurut Eko pergerakannya cenderung spekulatif. Naiknya harga EUR/GBP dalam enam bulan terakhir didukung oleh baiknya penanganan Covid-19 di Eropa. Di sisi lain, investor masih menghindari dollar AS dan yen seiring tingginya ketegangan kedua negara yang berpotensi membuat kurs bergerak terlalu volatile. 

"Tapi kalau AS dan China berdamai, kemungkinan prospek yen akan lebih menarik ketimbang EUR ke depannya," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×