kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

ISAT Punya Ruang Rebound, Price Repair dan Bisnis AI Jadi Katalis


Rabu, 08 April 2026 / 18:05 WIB
ISAT Punya Ruang Rebound, Price Repair dan Bisnis AI Jadi Katalis
ILUSTRASI. Indosat Ooredoo memperluas jaringan di desa terpencil (Dok/ISAT)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) pada 2026 diperkirakan masih akan bertumbuh, ditopang oleh perbaikan tarif data (price repair), peningkatan average revenue per user (ARPU), serta kontribusi bisnis digital baru.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menekankan, kinerja ISAT pada 2025 sudah menunjukkan perbaikan. Melansir laporan keuangan, ISAT membukukan pendapatan sebesar Rp 56,52 triliun pada 2025, tumbuh 1,1% secara tahunan.

Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan melonjak 12,2% secara tahunan menjadi Rp 5,51 triliun.

“Pada 2026, laba bersih diproyeksikan masih akan tumbuh mid-to-high single digit, didukung oleh peningkatan ARPU seluler dan kontrak cloud berbasis AI yang tetap sehat,” ujar Abida kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Trafik Data Indosat (ISAT) Melonjak 20% Saat Musim Mudik Lebaran 2026

Ia menjelaskan, salah satu katalis utama berasal dari proses price repair yang tengah berlangsung di industri telekomunikasi. 

Kondisi ini diperkirakan akan mendorong kenaikan ARPU ISAT sekitar 1,6% secara tahunan menjadi Rp 39.300 pada 2026.

Selain itu, monetisasi trafik data berbasis kecerdasan buatan (AI) serta kompetisi industri yang semakin rasional pasca konsolidasi juga menjadi faktor pendukung kinerja.

Dari sisi korporasi, Abida mencatat ISAT juga berpotensi mendapatkan tambahan dana sekitar US$ 700 juta pada kuartal II atau III 2026 dari transaksi pengalihan jaringan fiber optik ke entitas FiberCo. 

Baca Juga: Indosat (ISAT) Dorong Efisiensi Supply Chain lewat 27 Solusi AI

Langkah ini dinilai dapat memperkuat struktur keuangan sekaligus membuka peluang pertumbuhan jangka panjang.

Lebih lanjut, katalis lain juga perlu dicermati investor. Pertama, kecepatan normalisasi yield data ISAT yang saat ini masih relatif rendah dibandingkan pesaing.

Kedua, hasil lelang spektrum yang akan datang, yang dinilai krusial untuk menjaga daya saing jaringan, terutama di tengah persaingan dengan operator lain.

Ketiga, potensi pencatatan saham FiberCo di bursa yang dapat menjadi katalis rerating valuasi. Keempat, pertumbuhan layanan GPU-as-a-Service (GPUaaS) yang berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi perseroan.

Meski demikian, Abida menilai pergerakan harga saham ISAT belakangan ini lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar dibandingkan fundamental perusahaan, karena laba masih tumbuh dua digit dan margin tetap solid, sehingga kata Abida ada ruang rebound seiring normalisasi valuasi.

“Saat ini saham ISAT diperdagangkan di kisaran Rp 2.170, yang kami nilai masih di bawah potensi fundamentalnya,” jelasnya.

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Abida merekomendasikan buy saham ISAT dengan target harga Rp 3.000 per saham. 

Baca Juga: Laba Bersih Indosat (ISAT) Sepanjang 2025 Naik 12,2% Ditopang ARPU dan Jaringan 5G

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×