kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Investor Perlu Atur Ulang Portofolio Aset di Tengah Pasar Keuangan yang Tertekan


Jumat, 05 Juni 2026 / 19:31 WIB
Investor Perlu Atur Ulang Portofolio Aset di Tengah Pasar Keuangan yang Tertekan
ILUSTRASI. Pasar 2026 penuh tekanan, namun peluang tetap ada. (Dok/DW.com)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Di pasar saham, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76.

Tekanan juga terjadi di pasar keuangan secara lebih luas seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, investor tampaknya perlu meninjau kembali komposisi portofolio asetnya.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, mengatakan dalam kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian, pendekatan investasi sebaiknya tetap berfokus pada tujuan keuangan, profil risiko, dan disiplin alokasi aset.

Volatilitas pasar memang dapat menciptakan tekanan jangka pendek, namun juga membuka peluang bagi investor yang memiliki horizon investasi lebih panjang.

Investor agresif dapat mempertahankan eksposur yang lebih besar pada aset berisiko seperti reksa dana saham atau campuran, terutama melalui strategi investasi bertahap (dollar cost averaging) untuk memanfaatkan potensi pemulihan pasar.

Baca Juga: Tekanan Pasar Keuangan Meningkat, Atur Ulang Portofolio Aset Mesti Tepat

"Fokus utama tetap pada diversifikasi dan kualitas aset yang menjadi underlying portofolio," kata Reza kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).

Investor moderat dapat menerapkan alokasi yang lebih seimbang antara reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham. Pendekatan ini memungkinkan investor tetap memperoleh peluang pertumbuhan ketika pasar pulih, namun dengan tingkat volatilitas yang lebih terukur.

Sementara itu, investor konservatif dapat memprioritaskan stabilitas dan likuiditas melalui reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap dengan durasi yang lebih pendek. Instrumen tersebut umumnya lebih defensif terhadap fluktuasi pasar sekaligus tetap memberikan potensi imbal hasil yang kompetitif dibandingkan menyimpan dana dalam bentuk tunai.

"Secara umum, kondisi pasar saat ini lebih menuntut disiplin investasi dan diversifikasi dibandingkan upaya melakukan market timing," ujarnya.

Reza juga bilang pilihan instrumen investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Bagi investor yang mengutamakan stabilitas, reksa dana pasar uang masih menjadi pilihan menarik karena menawarkan likuiditas tinggi dan relatif minim volatilitas.

Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin memperoleh potensi imbal hasil lebih tinggi dengan tingkat risiko yang masih terukur.

Di sisi lain, bagi investor dengan horizon investasi jangka menengah hingga panjang, reksa dana saham dan reksa dana campuran dapat menjadi sarana untuk menangkap potensi pemulihan pasar apabila sentimen domestik maupun global membaik pada paruh kedua tahun ini.

Terkait target imbal hasil, investor perlu memiliki ekspektasi yang realistis mengingat kondisi pasar yang masih dinamis.

Secara indikatif, berikut besaran return yang bisa diraih dari sejumlah instrumen hingga akhir tahun:

  • Reksa dana pasar uang berpotensi memberikan imbal hasil sekitar 2%–4%.

  • Reksa dana pendapatan tetap berpotensi memberikan imbal hasil sekitar 4%–7%.

  • Reksa dana saham memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi, namun dengan tingkat volatilitas yang juga lebih besar, sehingga kinerjanya akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi makroekonomi, arus modal asing, dan sentimen pasar.

Baca Juga: Pasar Keuangan Bergejolak, Ini Rekomendasi Komposisi Investasi

Alih-alih berfokus pada satu instrumen tertentu, strategi yang lebih relevan saat ini adalah membangun portofolio yang terdiversifikasi sesuai profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

Dari sisi global, investor perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama terkait arah suku bunga dan dampaknya terhadap pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury). Perubahan ekspektasi suku bunga global dapat memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, pergerakan nilai tukar dolar AS, dinamika inflasi global, serta perkembangan geopolitik juga berpotensi memengaruhi sentimen pasar keuangan dalam jangka pendek.

Dari domestik, perhatian investor tertuju pada stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, kondisi likuiditas pasar, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama bagi kinerja pasar obligasi maupun pasar saham Indonesia ke depan.

"Di tengah berbagai ketidakpastian, investor perlu menghindari keputusan yang bersifat emosional dan tetap berpegang pada strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko serta tujuan keuangan jangka panjang," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×