Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Susunan baru indeks LQ45 sudah resmi berlaku sejak awal bulan ini. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Mitra Pack Tbk (PTMP) menjadi penghuni baru indeks paling likuid ini.
Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa masuknya emiten-emiten ini ke indeks LQ45 tidak terlalu memberikan penguatan yang signifikan terhadap harga sahamnya. Bahkan, sepekan terakhir pergerakan harga sahamnya cenderung melemah.
Berdasarkan data RTI, harga MBMBA tercatat turun 1,52% ke Rp 650 per saham. Lalu MTEL turun 1,47% ke Rp 670 per saham, dan PGEO turun 9,92% ke Rp 1.180 per saham. Hanya PTMP yang mencetak kenaikan 4,72% ke Rp 222 per saham.
"Euforia masuknya saham ke LQ45 ini hanya bersifat sementara," ujar Nafan kepada Kontan.co.id, Rabu (7/2).
Baca Juga: IHSG Melemah 0,17% pada Rabu (7/2), Simak Proyeksi Untuk Senin (12/2)
Terlebih, Nafan mencermati valuasi dari saham-saham tersebut juga terbilang mahal dan ada yang masuk kategori premium. Meski begitu, dia menilai keempat saham itu cukup berpotensi dalam rangka memperkuat bisnisnya sehingga mampu mendorong kinerja keuangannya ke depan.
Analis Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer juga sepakat bahwa sejumlah saham tersebut valuasi saham-saham tersebut cukup tinggi. Misalnya PTPM yang dinilai masih overvalued dengan PER di level 92,4 kali.
Sementara untuk MBMA dan MTEL, Mifta juga melihat PBV yang cukup tinggi, tetapi masih tergolong fair value. Dia menyebut, valuasi MBMA masih ditawarkan dengan cukup tinggi, yakni 3 kali PBV. Tetapi tren harga MBMA sudah tergolong cukup fair value dibandingkan harga saat listing pada pertengahan tahun lalu dengan level PE 21 kali (TTM) dan 1,6 kali PBV.
Oleh sebab itu, apabila PGEO mampu menjaga kinerja positifnya, Mifta bilang instrinsic value PGEO akan berada di kisaran angka Rp 1.545 per saham. "Hampir sama dengan PGEO, saham MTEL kami nilai cukup fair value dengan potensial upside di angka Rp 890 per saham," terang dia.
Baca Juga: Catat! Ini Rekomendasi Saham Pilihan Analis & Arah IHSG pada Pekan Pemilu & Pilpres
Dari keempat emiten tersebut, Kiwoom Sekuritas menyukai saham MTEL. Secara fundamentel, MTEL merupakan emiten dari sektor menara dan fiber optic dengan kinerja keuangan paling baik.
Hal ini terlihat dari kinerja MTEL yang kuat hingga September 2023. Perseroan mampu mencetak pertumbuhan laba bersih di tengah koreksi yang terjadi antar pesaingnya.
Laba tahun berjalan Mitratel naik 16,59% YoY menjadi Rp 1,43 triliun per September 2023. Pada periode yang sama di 2023, laba bersih MTEL sebesar Rp 1,22 triliun.
Selain itu, tahun kemarin MTEL mencatatkan penambahan 2.476 menara atau tumbuh 7% dibandingkan akhir 2022 yang tercatat 35.418 menara. Di periode yang sama, MTEL juga membangun dan mengakuisisi jaringan fiber optik alias fiber to the tower (FTTT) sepanjang 19.380 kilometer menjadi 30.009 km.
"Penggabungan layanan FTTT dengan layanan menara akan berdampak pada peningkatan harga sewa per tenant mitratel kedepanya," terangnya.
Baca Juga: Badai Winter Tech Masih Berlangsung, Ini Dampaknya ke Kinerja Emiten Teknologi
Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan menyebutkan bahwa prospek PGEO terbilang positif. Walaupun memang pada tahun ini produksi perseroan akan mengalami perlambatan.
Hasan menjelaskan, perlambatan pada produksi PGEO diakibatkan oleh jadwal perawatan pada sejumlah asetnya, seperti Kamojang unit 1 dan 4. Selain itu, perseroan juga berencana untuk melakukan perawatan besar di Lahendong, Ulubelu, Karaha, dan Lumut Balai.
Alhasil, target produksi PGEO diperkirakan mencapai 4.612 GWh atau terkoreksi 2,6% YoY. Sehingga, BRI Danareksa Sekuritas mengurangi perkiraan laba bersih PGEO di tahun ini sebesar 4,3% menjadi US$ 185 juta.
Namun demikian, untuk tahun 2025 pihaknya meyakini volume produksi PGEO dapat mencatat pertumbuhan dua digit sebesar 11,1% menjadi 5.126 GWh karena tidak adanya pemeliharaan besar dan penambahan kapasitas dari Lumut Balai Unit 2 yang akan mulai memberikan kontribusi pada akhir tahun 2024. "Oleh karena itu, kami memperkirakan laba pada 2025 akan mencapai US$ 218 juta atau naik 17,8% YoY," paparnya.
Baca Juga: Simak Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham Untuk Perdagangan Senin (12/2)
Analis OCBC Sekuritas Olivia Laura Anggita juga melihat prospek MBMA yang positif di 2024. Ini didorong dari adanya tambahan nickel pig iron (NPI) dari smelter ZHN di kuartal IV 2023 dan dimulainya produksi nikel matte dari HNMI akan menjadi pendorong utama bagi top line MBMA.
"Dalam jangka panjang, prospek MBMA juga terdorong dari ekspansi agresifnya ke bisnis hilir nikel, seperti High Grade Nickel Matte dan PLTMH," sebutnya.
Oleh sebab itu, tahun ini OCBC Sekuritas memproyeksikan kinerja pendapatan MBMA dapat tumbuh 32,41% menjadi US$ 1,81 miliar dari estimasi 2023 sebesar US$ 1,37 miliar. Sementara laba bersih perseroan diperkirakan melesat menjadi US$ 268 juta dari estimasi 2023 sebesar US$ 53 juta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













