Reporter: Herry Prasetyo, Melati Amaya Dori | Editor: Andri Indradie
JAKARTA. Bagi Tejasari Asad, Direktur dan Perencana Keuangan Tatadana Consulting, perencanaan keuangan secara syariah intinya tidak mencari riba. Selain itu, perencanaan keuangan syariah juga menerapkan prinsip berbagi atau sedekah. Tentu saja, dalam hal investasi, produk yang digunakan harus instrumen investasi syariah.
Eko Endarto, Perencana Keuangan Finansia Consulting, mengamini. Aspek pengelolaan keuangan secara syariah biasanya dilakukan dengan menempatkan dana di tabungan atau deposito bank syariah. Dalam berinvestasi, juga selektif terhadap produk-produk syariah, seperti reksadana syariah, sukuk, atau saham-saham yang masuk di dalam Daftar Efek Syariah (DES).
"Jadi kalau ada hal-hal dalam perencanaan keuangan konvensional yang tidak sesuai syariah, ya tidak digunakan," kata Eko.
Lalu, apa saja yang membedakan perencana keuangan konvensional dengan perencanaan keuangan syariah? Mungkin Anda masih ingat langkah-langkah menyusun perencanaan keuangan konvensional.
Pertama, biasanya seseorang akan diminta menyisihkan sebagian penghasilan untuk dana darurat. Kedua, sisihkan sebagian pendapatan untuk membayar utang dan membayar kebutuhan rutin bulanan. Ketiga, kalau ada sisa, gunakan untuk proteksi dan investasi.
Wajib dan sunnah
Dalam perencanaan keuangan syariah, fokus dan prioritas tujuan keuangan berbeda dengan perencanaan keuangan secara konvensional. Rakhmi Permatasari, perencana keuangan Safir Senduk & Rekan, mengingatkan, perencanaan keuangan secara syariah harus memperhatikan hal yang wajib dan sunnah (hal yang tak wajib tapi baik bila dilakukan).
Ambil contoh, orangtua berniat menyiapkan dana untuk pernikahan anak dan dana untuk menghajikan anak. Dalam Islam, orangtua wajib menikahkan anak-anaknya, namun tidak wajib menghajikan anak-anaknya. "Maka menyiapkan dana pernikahan anak jadi lebih prioritas daripada menyiapkan dana menghajikan anak," jelas Ahmad Gozali, Perencana Keuangan Zelts Consulting.
Nah, lantas bagaimana seharusnya pengelolaan keuangan keluarga ala Islam, seperti mengelola dana darurat, membayar utang, bayar zakat, dana untuk anak, umroh dan haji, serta dana pensiun? Simak tulisan selengkapnya di Tabloid KONTAN edisi 7 Maret - 13 Maret 2016 "Menabung Rumah Memotong Upah" di toko-toko Gramedia terdekat.
Simak juga artikel tentang meredupnya gerai-gerai ritel ala convenience store, laporan tentang merosotnya laba perbankan, dan pembahasan RUU Jasa Konstruksi. Juga, baca peluang dari tren kebaya dan beskap untuk anak-anak, insentif pemerintah di industri hulu substitusi impor, serta dialog tentang pengampunan pajak "Kalau mau Pengampunan Pajak Melapor ke Siapa".
Yang jelas, salah satu poin penting yang membedakan perencanaan keuangan konvensional dan perencanaan keuangan syariah tentang pengelolaan dana pensiun. Dalam perencanaan keuangan konvensional, investasi untuk dana pensiun mendapat prioritas penting. Namun, dalam ajaran Islam, setiap orang harus tetap giat bekerja, meski sudah masuk usia pensiun. Karena itu, investasi untuk kebutuhan dana pensiun bukan prioritas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
