kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.740   33,00   0,20%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

Indeks Sektor Kesehatan Sepanjang 2025 Naik 43,78%, Begini Prospek di Tahun 2026


Jumat, 02 Januari 2026 / 14:54 WIB
Indeks Sektor Kesehatan Sepanjang 2025 Naik 43,78%, Begini Prospek di Tahun 2026
ILUSTRASI. Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja IDX Sector Healthcare yang melonjak 43,78% sepanjang 2025 hingga menyentuh level 2.064,27 tidak serta-merta mencerminkan sektor kesehatan sebagai salah satu sektor dengan performa terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai secara peringkat, sektor kesehatan justru berada di posisi bawah dibanding sektor lainnya. Dari total 11 sektor di BEI, sektor healthcare berada di sekitar peringkat ke-9 secara year to date.

“Secara sektoral, meskipun terlihat naik cukup signifikan, sektor healthcare sebenarnya bukan top performer tahun ini. Kenaikan yang besar lebih disebabkan basis harga yang relatif tertekan di awal tahun, sehingga secara persentase terlihat melonjak tajam,” ujar Ekky kepada Kontan, Jumat (2/1/2026).

Baca Juga: Data Ekonomi Korea Selatan Positif, Kospi Ditutup ke Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Ia menjelaskan, penguatan indeks sektor kesehatan sepanjang 2025 banyak ditopang oleh pergerakan saham-saham lapis kedua atau second liner, seperti PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE), serta sejumlah emiten kesehatan lainnya yang mencatat lonjakan harga cukup ekstrem.

Namun demikian, Ekky menekankan kenaikan harga saham tersebut umumnya belum sepenuhnya didukung oleh perbaikan fundamental yang solid. “Penguatan lebih banyak dipicu oleh aksi korporasi, isu masuknya investor strategis atau konglomerasi, serta ekspektasi pasar terhadap perubahan arah bisnis,” jelasnya.

Dari sisi kinerja keuangan, sebagian emiten second liner sektor kesehatan masih mencatatkan kerugian atau profitabilitas yang belum stabil. Oleh karena itu, kenaikan harga saham lebih mencerminkan ekspektasi investor terhadap masa depan.

“Jika manajemen gagal merealisasikan perbaikan kinerja sesuai harapan pasar, risiko koreksi harga tetap terbuka cukup lebar,” tegas Ekky.

Memasuki 2026, Ekky menilai prospek sektor kesehatan masih positif secara struktural, meskipun potensi penguatannya diperkirakan tidak seagresif tahun lalu. Permintaan layanan kesehatan, baik rumah sakit, farmasi, maupun alat kesehatan, dinilai tetap bersifat jangka panjang dan relatif defensif.

Namun, ia mengingatkan pasar akan semakin selektif. “Investor ke depan tidak lagi hanya melihat rencana ekspansi atau narasi pertumbuhan. Pasar akan lebih menuntut realisasi pertumbuhan laba, efisiensi operasional, serta return yang jelas dari belanja modal,” kata Ekky.

Dari sisi risiko, investor perlu mencermati tekanan biaya operasional, terutama biaya tenaga medis dan peralatan, risiko regulasi terkait tarif BPJS, serta potensi kenaikan belanja modal yang dapat menekan arus kas jika tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan.

Baca Juga: OJK Angkat Bicara soal Dugaan Hilangnya Dana Member Indodax

Selain itu, dengan valuasi yang sudah naik pada sebagian saham healthcare, risiko koreksi jangka pendek juga perlu diantisipasi.

Untuk strategi investasi, Ekky menyarankan pendekatan yang lebih selektif. Emiten-emiten farmasi besar seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dinilai relatif lebih menarik.

“Valuasi KLBF dan SIDO saat ini lebih rasional dibandingkan peers, posisi harga juga sudah tergolong murah secara historis, serta didukung fundamental yang lebih stabil,” ujarnya.

Sementara itu, untuk saham second liner, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) dinilai menarik untuk dicermati karena cukup konsisten melakukan ekspansi bisnis. Meski demikian, Ekky mengingatkan investor tetap disiplin dalam manajemen risiko.

“Untuk saham-saham second liner, volatilitasnya cenderung tinggi dan sangat sensitif terhadap sentimen pasar, sehingga pendekatan investasi harus disertai manajemen risiko yang ketat,” pungkasnya.

Selanjutnya: KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku, Tapi Aturan Teknis Belum Lengkap

Menarik Dibaca: Lanjut Ngacir, Story (IP) Bertahan di Puncak Kripto Top Gainers 24 Jam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×