CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Indeks saham sektor barang konsumsi lesu, analis tidak menyarankan saham sektor rokok


Minggu, 08 Desember 2019 / 18:20 WIB
Indeks saham sektor barang konsumsi lesu, analis tidak menyarankan saham sektor rokok
ILUSTRASI. Warga melistas di depan pabrik rokok PT Gudang Garam Tbk di Kelurahan Bolowerti, Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (27/8). Analis tidak menyarankan saham emiten sektor rokok karena tertekan kenaikan tarif cukai.

Reporter: Kenia Intan | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham sektor consumer goods atau barang konsumsi cenderung lesu sejak awal tahun. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat per Jumat (6/12), indeks  saham sektor barang konsumsi terkoreksi 20,1% year to date (ytd) hingga Jumat (t/12). Penurunan ini paling besar dibandingkan indeks saham sektor lainnya.

Analis Profindo Sekuritas Indonesia Dimas Wahyu Pratama melihat saham-saham rokok menjadi pemberat kinerja indeks saham sektor barang konsumsi. Penurunan ini sehubungan dengan kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang baru per 1 Januari 2020 mendatang.

Baca Juga: Indeks saham sektor barang konsumsi terpuruk, adakah saham yang masih menarik?

Kebijakan yang tertuang pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau itu mengenakan kenaikan tarif CHT sebesar rata-rata 21,55%.

Walaupun emiten rokok dibayangi sentimen negatif, akan tetapi saham semiten barang konsumsi lainnya masih prospektif. Daya beli konsumen yang meningkat akan menopang saham-saham emiten barang konsumsi. 

Diantara saham emiten sektor barang konsumsi, Dimas merekomendasikan buy saham-saham seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), dan PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI).

Baca Juga: Liga Saham Big Cap sepekan: HMSP naik tertinggi, GGRM masuk lagi

"Justru saat ini sedang murah-murahnya," katanya ketika ditemui Kontan.co.id,  Jumat (6/12).

Sementara untuk saham emiten sektor rokok, Dimas belum merekomendasikannya. Investor perlu menunggu respons pasar ketika kebijakan cukai yang baru diterapkan 2020 mendatang.




TERBARU

Close [X]
×