kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Indeks di BEI masih loyo, simak rekomendasi analis berikut


Kamis, 03 Oktober 2019 / 20:48 WIB

Indeks di BEI masih loyo, simak rekomendasi analis berikut
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang tahun ini hingga Kamis (3/10), mayoritas indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti LQ45 turun 4,61%. Indeks itu melemah jauh lebih buruk dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 2,52% secara year to date (ytd). 

Indeks Kompas100 juga turun 4,32%. Bahkan, indeks baru seperti IDX Value 30 lebih parah hingga 5,55%. Sementara secara year to date, indeks yang hijau antara lain indeks saham-saham kecil, seperti IDX SMC Liquid naik 2,74% dan Pefindo25 yang menguat 6,27%.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyatakan penyebab indeks-indeks tersebut bisa memburuk akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang belum selesai. Ditambah lagi dengan adanya perang dagang antara AS dan Uni Eropa.

Menurut Nico, perang antara AS dan Eropa sebetulnya sudah lama terjadi, namun keputusan World Trade Organization (WTO) yang memenangkan gugatan AS dan berdampak pada perizinan AS mengenakan tarif terhadap barang impor dari Eropa menjadi pemicu utama.

Baca Juga: Indeks Kompas100 dan IDXV 30 terimbas sektor perbankan dan konsumer yang loyo

"Perang antara AS dan Eropa menambah rentetan panjang perang dagang. Ini berpotensi menambah ketidakpastian yang sedang terjadi di pasar global," ujar Nico kepada Kontan.co.id, Kamis (3/10).

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama juga bilang, penurunan indeks LQ45 dan IHSG sejatinya karena faktor yang paling umum adalah dari global, seperti perang dagang yang tak usai. Nafan menilai gejala penurunan pendapatan ekonomi global juga menjadi sentimen negatif dalam beberapa waktu terakhir.

"Bisa kita lihat gejalanya dari beberapa negara yang mengalami penurunan kinerja. Terlihat dari Purchasing Managers Index(PMI) mereka," kata Nafan. 

Nafan menyebutkan beberapa contoh negara yang dinilai mengalami penurunan dari data PMI-nya adalah Indonesia, Jepang, Inggris, AS, dan China.

"Itu rata-rata di bawah 50 angka PMI-nya. Negara tersebut harus meningkatkan kegiatan ekspansi mereka," tambah Nafan.

Sementara untuk faktor lain, ada kondisi geopolitik yang terjadi. Sebagai contoh, faktor demonstrasi di Hong Kong yang berlangsung sejak Juni lalu. Ditambah lagi akhir-akhir ini ada situasi di Semenanjung Korea.

Di sisi lain, penurunan indeks BEI juga disebabkan oleh faktor dari domestik, seperti deflasi pada September yang turut memicu pelemahan indeks. Ada lagi emiten perbankan pelat merah yang sempat merosot signifikan karena kredit yang macet dan kemungkinan gagal bayar.

Nico menambahkan, sebetulnya penurunan indeks-indeks BEI itu tidak bisa dinilai berdasarkan sentimennya saja. Sebab, tolak ukur dan variabel tiap indeks berbeda-beda.

Baca Juga: IHSG melemah tertekan kekhawatiran meluasnya perang dagang

Sementara itu, mengenai prospek indeks BEI hingga akhir tahun, Nico masih optimis, contohnya untuk IHSG. Pilarmas menargetkan harga saham IHSG di akhir tahun di level 6.750, sedangkan target minimum di akhir tahun menyentuh level 6.550.

Prospek akhir tahun menurut Nafan bisa menguat dengan memanfaatkan window dressing pada Desember mendatang. Sebab, secara historis indeks positif di Desember. 

Kedua analis ini merekomendasikan investor untuk mencermati saham sektor keuangan, sektor infrastruktur dan konstruksi, serta sektor industri barang konsumsi hingga akhir tahun.

Nico merekomendasi membeli saham WTON dengan target harga Rp 990 per saham dan WSBP di target Rp 560 per sahamnya.

"Intinya penurunan indeks ini, bisa menjadi pertimbangan investor untuk investasi jangak panjang. Sehingga ketika kita yakin akan valuasi saham tersebut. Tidak perlu takut untuk membeli, apalagi saat ini IHSG sedang terkoreksi," tutup Nico.


Reporter: Yasmine Maghfira
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×