kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

IHSG Tertekan 3,28% Sepekan, Simak Saham Pilihan untuk Pekan Depan


Jumat, 02 Oktober 2026 / 19:05 WIB
IHSG Tertekan 3,28% Sepekan, Simak Saham Pilihan untuk Pekan Depan
ILUSTRASI. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini masih dibayangi tekanan jual (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini masih dibayangi tekanan jual. Meski mampu mengakhiri perdagangan Jumat (2/10/2026) di zona hijau, IHSG tetap mencatatkan penurunan secara mingguan.

Pada akhir perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG ditutup menguat 27,39 poin atau 0,46% ke level 6.036,89. Namun, secara mingguan IHSG terkoreksi 3,28%.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, tekanan terhadap IHSG sepanjang pekan tidak terlepas dari kenaikan imbal hasil US Treasury (UST). Yield UST tenor 10 tahun sempat mencapai 5,3%, level tertinggi sejak 2002.

"Selama sepekan ini, IHSG terkoreksi 3,28% dan masih didominasi oleh tekanan jual yang relatif meningkat. Dari sisi sentimen, kami perkirakan antara lain adanya kenaikan dari yield UST yang sempat mencapai 5,3% untuk 10Y, tertinggi sejak 2002," kata Herditya kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).

Kenaikan yield UST turut memberikan tekanan terhadap pasar negara berkembang atau emerging market (EM), terutama melalui pergerakan nilai tukar. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang ikut terdampak oleh kondisi tersebut.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound, Sejumlah Syarat Ini Jadi Penentu Tren Bullish

Tekanan terhadap aset emerging market juga berpotensi memicu arus dana keluar. Investor asing cenderung mengurangi eksposur terhadap aset di negara berkembang ketika imbal hasil aset Amerika Serikat meningkat.

Sementara dari dalam negeri, pasar saham juga mencermati penerapan kebijakan batas bawah harga saham Rp 1. Menurut Herditya, kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap likuiditas sekaligus meningkatkan volatilitas perdagangan.

IHSG Berpotensi Kembali Terkoreksi

Memasuki perdagangan pekan depan, Herditya memperkirakan IHSG masih memiliki risiko untuk melanjutkan koreksi. Ia menempatkan level support IHSG di 5.839, sedangkan resistance berada di 6.212.

Pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal, salah satunya rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau nonfarm payrolls (NFP).

"Kalau untuk sentimen, antara lain reaksi pasar akan rilis NFP AS pada malam nanti. Apabila rilisnya menguat maka akan meningkatkan kembali kekhawatiran akan hawkish The Fed," ujarnya.

Menurut Herditya, kebijakan The Fed yang lebih hawkish berpotensi kembali mendorong kenaikan yield UST sekaligus memperkuat dolar AS terhadap sejumlah mata uang global.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor karena kenaikan yield obligasi AS dan penguatan dolar AS dapat memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Selain kebijakan The Fed, pasar juga masih mencermati perkembangan harga minyak dunia di tengah proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Merger Empat Anak Usaha, Krakatau Baja Jadi Perusahaan Penerima

"Apabila hawkishnya The Fed maka diperkirakan akan meningkatkan kembali yield UST dan akan kembali menguatkan nilai tukar Dolar secara global. Pasar tetap mencermati harga minyak dunia dengan negosiasi yang masih berjalan antara AS-Iran," kata Herditya.

Saham Pilihan Pekan Depan

Di tengah tekanan terhadap IHSG, Herditya juga menyebut sejumlah saham yang dapat dicermati investor pada perdagangan pekan depan.

Saham tersebut antara lain PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan kisaran harga 17.575-18.250, PT Indosat Tbk (ISAT) di level 2.400-2.480, serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) pada kisaran 880-905.

Dengan demikian, pergerakan IHSG pada pekan depan akan turut ditentukan oleh respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan The Fed, pergerakan yield UST, nilai tukar rupiah, serta perkembangan harga minyak dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×