Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,29% atau naik 17,04 poin ke level 5.943,02 pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Dengan penguatan terbesar pada sektor teknologi.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai IHSG bergerak fluktuatif di tengah sentimen harga minyak yang masih bertahan di level tinggi, penantian data inflasi Amerika Serikat (AS), serta antisipasi investor terhadap tinjauan MSCI yang dijadwalkan pada November mendatang.
Beberapa saham juga mengalami technical rebound setelah mengalami tekanan jual pada perdagangan Senin (12/10/2026). Di sisi lain, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,06% ke level Rp 17.885 per dolar AS di tengah dolar AS yang masih kuat.
Baca Juga: Emiten Tambang dan Migas Terus Genjot Belanja Eksplorasi, Ini Dampaknya ke Saham
Secara teknikal, Alrich menyebut indikator Stochastic RSI IHSG masih bergerak melemah di area pivot. Sementara itu, histogram MACD masih berada di teritori negatif.
Dengan kondisi tersebut, Alrich memperkirakan IHSG masih bergerak sideways pada kisaran 5.850-6.000.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai penguatan IHSG belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pasar sudah mencapai titik terendah atau bottom.
Menurut Hendra, investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp 104 miliar, sementara secara year to date (YTD) nilai jual bersih asing telah mencapai sekitar Rp 111 triliun. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap pasar saham Indonesia belum sepenuhnya berakhir.
Hendra menilai peluang technical rebound masih terbuka, tetapi risiko pelemahan lanjutan tetap perlu diwaspadai. Dalam skenario negatif, IHSG berpotensi menguji level 5.850 apabila tekanan jual kembali meningkat dan indeks gagal mempertahankan area support terdekat.
Salah satu sentimen yang perlu dicermati adalah rilis data inflasi AS. Hendra mengatakan, apabila inflasi AS kembali meningkat atau lebih tinggi daripada ekspektasi pasar, peluang penurunan suku bunga Federal Reserve dapat semakin terbatas.
Jika ekspektasi suku bunga AS meningkat, imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi naik dan dolar AS menguat. Kondisi ini dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, serta mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham Indonesia.
Baca Juga: CDS Indonesia Masih Fluktuatif, Risiko Investasi Masih Dibayangi Sentimen Global
Dari sisi domestik, Bank Indonesia juga menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa terlalu membebani pertumbuhan ekonomi. Apabila rupiah melemah signifikan akibat penguatan dolar AS dan arus modal keluar, BI berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi atau menaikkan suku bunga apabila tekanan nilai tukar dan risiko inflasi membutuhkan respons lebih kuat.
Hendra menambahkan, investor juga perlu mencermati pergerakan imbal hasil US Treasury, harga minyak dunia, serta perkembangan evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia, khususnya terkait transparansi kepemilikan saham, free float, dan kualitas tata kelola pasar.
Dari sisi strategi investasi, Hendra menilai pendekatan yang lebih relevan saat ini adalah selective buying atau membeli saham secara selektif, bukan melakukan pembelian secara merata hanya karena IHSG mulai menguat.
Untuk saham pilihan, Hendra merekomendasikan trading buy saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga Rp 1.700. Ia juga menyarankan speculative buy saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan target harga Rp 1.600, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dengan target harga Rp 700, serta PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan target harga Rp 1.600.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














