kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IHSG gagal menembus zona hijau, ini sebabnya


Rabu, 13 November 2019 / 10:45 WIB
IHSG gagal menembus zona hijau, ini sebabnya
ILUSTRASI. Pegawai melintas di depan layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/10/2019). Rabu (13/11) pukul 10.40 WIB, IHSG masih tercatat turut tipis 0,06% ke 6.177.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum kuat mendaki ke zona hijau. Rabu (13/11) pukul 10.40 WIB, IHSG masih tercatat turut tipis 0,06% ke 6.177.

Padahal, tadi sekitar pukul 10.00 WIB, IHSG sempat menyembul di area positif. Tekanan turun indeks sektor perkebunan yang sebesar 1,14% masih menyeret IHSG. Penurunan sektor infrastruktur pun masih besar, yakni 0,63%. Sehingga kenaikan sektor industri dasar yang mencapai 0,75% sulit mengangkat IHSG.

Pilarmas Investindo Sekuritas memprediksi IHSG memiliki peluang bergerak mixed cenderung menguat terbatas pada kisaran perdagangan 6.118-6.212. Dalam riset, Direktur Riset dan Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, ada tiga sentimen yang akan menggerakkan IHSG hari ini.

Baca Juga: IHSG turun di awal perdagangan Rabu (13/11)

Pertama, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan kata-kata panas soal China di Economic Club of New York. Pernyataan ini menyindir China banyak mengambil keuntungan dari Amerika Serikat (AS).

Analis melihat ini bisa meningkatkan kembali tensi perang dagang. Selain itu, Trump juga menyindir Uni Eropa karena memberi hambatan dagang kepada AS. Di kesempatan yang sama Trump juga mengkritik The Fed yang ragu menurunkan tingkat suku bunga dan Trump.

Kedua, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan terhadap World Trade Organization (WTO) dengan meningkatkan kemungkinan untuk memblokir anggaran dua tahunan dan secara efektif menghentikan kontribusi AS mulai tahun depan. Dalam pertemuan Komite Anggaran WTO di Jenewa, Selasa (12/11), delegasi AS menyatakan keprihatina tentang pembayaran organisasi kepada badan banding yang menurut pemerintahan Trump telah melampaui mandat. Mereka juga menyatakan keprihatinannya terhadap proxy dispute settlement system yang akhir-akhir ini telah diperjuangkan oleh Uni Eropa, Kanada dan Norwegia.

Baca Juga: Semakin mencekam, Hong Kong bersiap menghadapi aksi kekerasan yang lebih luas lagi

Para anggota memiliki waktu hingga 31 December 2019 untuk menyusun dan menyesuaikan anggaran untuk tahun 2020 dan 2021, dan pembahasan akan dilanjutkan Selasa depan. Jika Amerika secara sepihak tidak memberikan anggaran tersebut, hal ini dapat menyebabkan terganggunya pekerjaan dan fungsi WTO. Hal tersebut juga akan menyebabkan Negara-negara tersebut tidak lagi bergantung kepada WTO untuk menyelesaikan kesepakatan ditengah pertikaian yang kian meningkat. Amerika secara jelas juga menyalahkan WTO karena telah membiarkan China tumbuh menjadi kekuatan ekonomi saingan bagi Amerika selama dua dekade terakhir dengan merendahkan peraturan.

"Tapi kami melihat kembali lagi, WTO bukanlah Lembaga yang siapa penyumbang lebih banyak akan lebih banyak mendapatkan fasilitas. Sumbangan terkait dengan anggaran WTO hanya untuk memastikan bahwa WTO menjalankan tugas dan fungsinya sebagai Lembaga Perdagangan Dunia, bukan sebagai alat dari suatu negara," tulis Nico dan tim.

Ketiga, RCEP melibatkan 10 negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan lima partner dagang utama mereka: Australia, China, Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan. Ini akan mendorong perdagangan lintas grup dengan menurunkan tarif, menstandarisasi aturan dan prosedur kepabeanan, dan memperluas akses pasar terutama di antara negara-negara yang tidak memiliki kesepakatan perdagangan yang ada.


Tag


TERBARU

Close [X]
×