kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

IHSG bisa tertekan pelemahan rupiah


Sabtu, 21 April 2018 / 07:58 WIB
IHSG bisa tertekan pelemahan rupiah


Reporter: Dede Suprayitno | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah kembali turun. Merujuk Kurs tengah Bank Indonesia (BI), Jumat (20/4), rupiah berada di level Rp 13.804 per dollar Amerika Serikat (AS), dan menjadi posisi terlemah rupiah sejak 1 Februari 2016.

Seirama penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah. Kemarin, IHSG turun 0,29% menjadi 6.337,69.

Meski begitu, Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital Sekuritas, menilai, pasar sudah mengantisipasi potensi penurunan rupiah, utamanya akibat kebijakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve. Maklum, Fed akan lebih agresif menaikkan suku bunga sepanjang tahun ini.

Kebijakan itulah yang berpeluang menekan kurs rupiah. Apalagi, BI menahan suku bunga. "Hal ini membuat selisih dengan Fed rate kurang lebih 2,5%," kata Alfred kepada KONTAN, Jumat (20/4).

Kenaikan suku bunga The Fed masih berpotensi terjadi dua kali dengan kenaikan 50 basis poin (bps). Angka ini dinilai cukup rawan, terutama di tengah inflasi yang belum stabil. "Apalagi harga minyak naik," tambah Alfred.

Krishna Dwi Setiawan, Head of Lots Services Lotus Andalan Sekuritas sepakat, kini perhatian pasar masih terfokus pada rencana kenaikan suku bunga The Fed sampai tiga kali.

Dus, rupiah masih berpotensi melemah dan juga menekan IHSG. "Tapi pekan depan akan ada rilis kinerja emiten kuartal I-2018," tambahnya. Jika hasilnya bagus, pelemahan IHSG bida diredam.

Alfred menilai, sejumlah sektor saham bisa terpengaruh depresiasi rupiah. Salah satunya sektor farmasi. Sektor ini akan menanggung beban tambahan akibat tingginya biaya bahan baku impor. Sebaliknya, para emiten komoditas, justru akan diuntungkan dari kondisi ini.

Aditya Perdana Putra, analis Semesta Indovest Sekuritas menambahkan, selain farmasi, sektor aneka industri, barang konsumsi, dan otomotif terkena imbas negatif pelemahan rupiah. "Efek pelemahan rupiah ini bisa membuat inflasi naik," terang Aditya.

Sebaliknya, PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) akan terkena efek positif karena berorientasi ekspor. Toh, Aditya berharap, depresiasi rupiah hanya berlangsung sesaat.

Prediksi Aditya suku bunga The Fed masih bisa naik hingga empat kali pada tahun ini. Sehingga, ia merevisi target IHSG akhir tahun dari 6.800 menjadi 6.400. Namun, Alfred masih yakin kalau pada akhir tahun ini IHSG bisa mencapai level 7.000 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×