Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mengandalkan diversifikasi bisnis dan ekspansi ekspor untuk menjaga pertumbuhan kinerja di tengah tekanan permintaan emas perhiasan domestik akibat tingginya harga emas.
Berdasarkan data World Gold Council, permintaan emas perhiasan Indonesia turun 18% secara tahunan menjadi 3,1 ton pada kuartal III-2026. Kondisi ini menjadi tantangan bagi industri perhiasan emas, termasuk HRTA, yang menghadapi perubahan pola konsumsi masyarakat seiring kenaikan harga emas.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai, penurunan permintaan tersebut berpotensi menekan volume penjualan segmen perhiasan HRTA hingga akhir 2026. Meski demikian, dampaknya terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan diperkirakan relatif terbatas karena sebagian besar pendapatan HRTA ditopang produk emas batangan.
Baca Juga: Rupiah Ditopang Sentimen Pemilu AS & PDB Kuartal III-2026, Cek Proyeksi Jumat (6/11)
"Namun, dampaknya terhadap kinerja secara keseluruhan relatif terbatas karena sebagian besar pendapatan HRTA ditopang oleh produk emas batangan," ujar Adrian kepada Kontan, Kamis (5/11/2026).
Menurut Adrian, tingginya harga emas memang berpotensi menahan permintaan perhiasan. Namun, kondisi tersebut sekaligus mendorong minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai dan investasi. Hal ini menjadi peluang bagi HRTA untuk mengoptimalkan lini bisnis emas batangan.
Selain itu, HRTA juga mulai kembali mengekspor perhiasan emas ke Uni Emirat Arab (UEA) sejak September 2026. Adrian menilai, langkah tersebut positif untuk mendiversifikasi pasar sekaligus mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap permintaan domestik.
UEA merupakan salah satu pusat perdagangan perhiasan emas dunia sehingga memiliki potensi pasar yang cukup besar. Kendati demikian, kontribusi ekspor tersebut diperkirakan meningkat secara bertahap dan belum cukup untuk sepenuhnya mengompensasi pelemahan pasar domestik dalam jangka pendek.
Senada, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai, tekanan permintaan perhiasan menjadi tantangan bagi HRTA. Pasalnya, harga emas yang tinggi membuat konsumen cenderung mengurangi volume pembelian atau beralih ke perhiasan dengan bobot lebih ringan.
Meski begitu, Alrich melihat dampaknya terhadap HRTA relatif terdiversifikasi lantaran perusahaan tidak hanya mengandalkan bisnis perhiasan, tetapi juga emas batangan, perdagangan grosir, dan bisnis bullion.
Hal ini tercermin dari kinerja HRTA hingga September 2026. Penjualan perusahaan tercatat tumbuh 77,38% secara tahunan menjadi Rp 44,69 triliun. Sementara itu, laba bersih meningkat 56,13% menjadi Rp 900,1 miliar.
"Namun, perlambatan permintaan domestik tetap perlu diwaspadai sepanjang 2027. Ekspor berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru sekaligus mengurangi ketergantungan HRTA terhadap pasar domestik," kata Alrich.
Hingga September 2026, penjualan ekspor HRTA mencapai sekitar Rp 1,32 triliun. Nilai tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya, meskipun kontribusinya masih relatif kecil, yakni sekitar 3% dari total penjualan.
Baca Juga: Mark Dynamics (MARK) Tebar Dividen Rp 76 Miliar, Potensi Yield Capai 2,02%
Menurut Alrich, peluang pertumbuhan ekspor masih terbuka lebar. Namun, HRTA perlu meningkatkan volume penjualan ke pasar internasional sekaligus menjaga margin keuntungan.
Di samping ekspor, peningkatan kapasitas produksi dari 48 ton menjadi 60 ton juga membuka ruang pertumbuhan bagi perusahaan. Alrich menilai, peluang HRTA ke depan tidak hanya berasal dari bisnis perhiasan, tetapi juga emas batangan dan bisnis bullion.
Katalis lainnya berasal dari potensi ekspansi ekspor, pertumbuhan bisnis bullion, serta peluang memperoleh pengakuan dari London Bullion Market Association (LBMA).
Adapun Adrian menyoroti peningkatan harga emas, pertumbuhan ekspor ke UEA dan pasar lainnya, serta kuatnya permintaan emas batangan sebagai aset safe haven sebagai katalis kinerja HRTA. Perluasan jaringan distribusi dan penguatan merek juga berpotensi mendukung pertumbuhan perusahaan.
Meski prospeknya masih terbuka, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Adrian menyebut volatilitas harga emas, pelemahan daya beli konsumen, tekanan margin, serta risiko modal kerja karena bisnis emas bersifat padat modal dan bergantung pada pembiayaan.
Sementara itu, Alrich menyoroti risiko pelemahan daya beli, penurunan volume permintaan perhiasan, volatilitas harga emas, dan kebutuhan modal kerja yang besar. Potensi dilusi dari rencana private placement juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan investor.
Dari sisi rekomendasi investasi, Adrian merekomendasikan buy saham HRTA dengan target harga Rp 2.900 per saham. Di sisi lain, Alrich memilih bersikap wait and see terhadap saham HRTA di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 18.082 Usai Pemilu Sela AS, Ini Proyeksi untuk Jumat (6/11)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
