kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Harga Timah Melemah, Ini Dampak Bagi Industri dan Investor


Minggu, 29 Maret 2026 / 15:13 WIB
Harga Timah Melemah, Ini Dampak Bagi Industri dan Investor
ILUSTRASI. PT Timah Tbk (KONTAN/Sabrina Rhamadanty)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga timah terkoreksi pada perdagangan pekan ini, melanjutkan tren pelemahan setelah sebelumnya sempat reli tajam di awal tahun.

Mengutip data Trading Economics, harga timah secara harian turun 1,55% menjadi US$ 44.125 per ton pada Kamis (26/3). Selama sebulan terakhir harga timah telah turun sebesar 23,56%, tetapi mengalami kenaikan 25,11% dibandingkan tahun lalu.

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai penurunan harga timah, meskipun terbatas, berpotensi menekan proyeksi pendapatan jangka pendek para pelaku usaha.

Baca Juga: Harga Nikel dan Aluminium Naik, Biaya Industri Otomotif Berpotensi Terkerek

Ia menambahkan, para pelaku usaha berpeluang menahan stok (stockpiling) sambil menunggu harga kembali stabil di atas level psikologis tertentu. 

"Hal ini bisa berdampak pada penurunan setoran royalti kepada negara jika volume ekspor ikut melandai akibat strategi penahanan stok tersebut," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (27/3).

Di sisi lain, koreksi harga timah memberikan ruang bagi produsen perangkat keras untuk menekan biaya produksi. 

Timah merupakan bahan utama solder dalam sirkuit elektronik yang banyak digunakan pada perangkat seperti gadget, server AI, hingga alat medis.

"Di tengah permintaan tinggi terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI), koreksi harga timah justru sering dimanfaatkan oleh industri hilir untuk melakukan pembelian fisik dalam jumlah besar (restocking)," ujar Wahyu.

Menurut Wahyu, para investor sering kali menganggap penurunan ini sebagai fase konsolidasi yang sehat.

Maka dari itu, investor jangka panjang biasanya memanfaatkan momentum ini untuk melakukan akumulasi bertahap (buy on weakness), mengingat fundamental timah yang diprediksi tetap langka dalam jangka menengah akibat terbatasnya pembukaan tambang baru secara global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×