Reporter: Namira Daufina | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Harga tembaga melanjutkan reli di hari kedua secara berturut-turut. Penurunan produksi Cile sebagai salah satu produsen tembaga terbesar menghembuskan sentimen positif ke pasar.
Mengutip Bloomberg pada Rabu (2/3), harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melesat 1,03% ke US$ 4.765 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Harga terangkat sekitar 2,64% dalam sepekan terakhir.
Andri Hardianto, Research and Analyst PT Asia Tradepoint Futures, mengatakan, rendahnya produksi tembaga di Cile pada Januari 2016 yang hanya 453.000 ton mendukung kenaikan harga tembaga.
Hal ini meniupkan angin segar terhadap prospek harga tembaga di tengah sepinya permintaan. "Stimulus yang siap digelontorkan Pemerintah China sebesar US$ 100 miliar juga memberikan harapan kenaikan permintaan tembaga untuk manufaktur dan industri," kata Andri, kemarin.
Secara historis, permintaan logam pada periode Maret–April setiap tahun selalu meningkat. Spekulasi tersebut ikut mengangkat harga tembaga. Faktor positif lain juga datang dari BHP Billiton Ltd, yang akan menjaga level produksi rendah.
Namun bukan berarti harga tembaga aman dari ancaman koreksi. "Data manufaktur China dan Eropa masih mengecewakan," ujar Andri. Itu artinya belum akan ada kenaikan permintaan di pasar global dalam waktu dekat. Sedangkan kenaikan harga saat ini hanya dalam rentang yang terbatas.
Kendati begitu, Kamis (3/3), peluang kenaikan harga tembaga masih terbuka lebar. Data ISM manufaktur PMI Amerika Serikat (AS) Februari 2016 melonjak, dari posisi 48,2 ke level 49,5. Jadi masih ada harapan permintaan tembaga dari manufaktur Negeri Paman Sam meningkat.
"Hanya perlu diwaspadai, kalau data ekonomi AS positif, itu artinya indeks USD bisa menguat dan menggerus harga komoditas termasuk harga tembaga," papar Andri. Terutama di akhir pekan, jika data ketenagakerjaan AS positif, tekanan harga tembaga semakin berat. Mengingat data ketenagakerjaan AS erat kaitannya dengan rencana kenaikan suku bunga The Fed yang akan dibahas pada pertemuan bulan ini.
Secara teknikal Andri melihat, saat ini harga bergulir di atas moving average (MA) 50 dan 100 namun masih di bawah MA 200 sehingga penguatan bisa tertahan. Garis moving average convergence divergence (MACD) juga di atas garis 0 berpola uptrend.
Sementara indikator stochastic dan relative strength index (RSI) di atas level 50 dan terus menanjak. "Harga Kamis (3/3) bergerak di kisaran US$ 4.750-US$ 4.800 per metrik ton dan sepekan US$ 4.740-US$ 4.820 per metrik ton," tebak Andri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













