kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Harga nikel terkoreksi pasca China memotong tarif PPN manufaktur


Jumat, 15 Maret 2019 / 19:23 WIB

Harga nikel terkoreksi pasca China memotong tarif PPN manufaktur

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga logam dasar, termasuk nikel terkoreksi karena China memangkas tarif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk manufaktur dan sektor lainnya pada April mendatang.

Mengutip Bloomberg, harga nikel kontrak tiga bulanan di bursa London Metal Exchange (LME), Kamis (14/3) tercatat melemah 2,42% ke US$ 12.890 per metrik ton. Dalam sepekan harga nikel melemah 1,52%.


Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, harga logam dasar secara umum melemah karena kabar dari China mengecewakan pelaku pasar.

Dalam Shanghai Futures Exchange sebagian besar harga logam dasar turun selama sesi perdagangan pagi, Jumat (15/3).

Wahyu mengutip pemberitaan global menyebutkan, penurunan harga logam dasar tersebut karena pelaku pasar merespons baik berita China akan memangkas tarif PPN untuk manufaktur dan sektor lainnya.

Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan bahwa tarif PPN untuk sektor manufaktur akan dipotong menjadi 13% dari 16% pada bulan depan. "Harga logam dasar di SHE memiliki tingkat PPN 16% dan sudah dihargai, jadi setelah diumumkan pemotongan PPN yang lebih cepat, harga logam dasar termasuk nikel jadi tertekan," kata Wahyu, Jumat (15/3).

Namun, Wahyu menilai, koreksi harga nikel saat ini termasuk wajar karena sudah naik signifikan selama Februari 2019 akibat pasokan dan permintaan ketat dan cadangan menurun.

Ke depan harga nikel masih memiliki ruang untuk rebound karena didukung membaiknya fundamental. Sedangkan, dalam jangka menengah, Wahyu memproyeksikan harga nikel masih menguat seiring pelemahan komoditas terkait karena perang dagang dan penguatan dollar AS.

"Jadi short term wajar koreksi, untuk jangka menengah harga nikel masih bagus, apalagi untuk jangka panjang masih menjanjikan," kata Wahyu.

Untuk sepekan depan, Wahyu memproyeksikan harga nikel berada di rentang US$ 12.600 per metrik ton hingga US$ 13.500 per metrik ton. Wahyu merekomendasikan buy on weakness untuk nikel.


Reporter: Danielisa Putriadita
Editor: Komarul Hidayat
Video Pilihan


Close [X]
×