Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Meski demikian, tantangan tetap membayangi sektor ini. Hari menyoroti belum terbitnya RKAB 2026, seperti yang dialami INCO, berpotensi menghambat kinerja emiten nikel karena menimbulkan ketidakpastian terhadap produksi, volume penjualan, dan rencana belanja modal.
Tantangan lainnya meliputi risiko perubahan kebijakan pemerintah terkait kuota produksi dan hilirisasi, potensi normalisasi harga nikel setelah reli, tekanan biaya operasional seperti energi dan logistik, serta dinamika permintaan global, khususnya dari sektor kendaraan listrik yang sensitif terhadap siklus ekonomi.
Di sisi lain, Abida menilai pemerintah telah memitigasi risiko keterlambatan RKAB melalui kebijakan relaksasi yang mengizinkan penambang nikel beroperasi hingga maksimal 25% dari rencana produksi tahunan sampai 31 Maret 2026.
Baca Juga: Proyeksi Saham MBMA Masih Dipengaruhi Penurunan Harga Nikel
Dalam jangka panjang, emiten nikel juga perlu mewaspadai implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) per Januari 2026 yang mengenakan pajak karbon lintas batas untuk produk ekspor.
Kesiapan dalam mengadopsi energi bersih serta pemenuhan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) akan menjadi faktor kunci daya saing emiten nikel di pasar global.
Abida merekomendasikan saham emiten nikel dengan prospek positif, di antaranya NCKL dengan target harga Rp 1.300 per saham dan MBMA dengan target harga Rp 700 per saham.
Selanjutnya: Ada Rencana Pengurangan Produksi, Harga Nikel Diproyeksi Terus Meningkat
Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat Turun di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (8/1)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













