kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Harga minyak melonjak lebih dari 1% akibat gangguan pasokan di Libya dan Irak


Senin, 20 Januari 2020 / 07:34 WIB
Harga minyak melonjak lebih dari 1% akibat gangguan pasokan di Libya dan Irak
ILUSTRASI. Senin (20/1) pukul 7.19 WIB, harga minyak WTI naik 1,21% ke US$ 59,25 per barel.

Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak pagi ini menguat lagi melanjutkan kenaikan sejak pertengahan pekan lalu. Senin (20/1) pukul 7.19 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 59,25 per barel, naik 1,21% ketimbang harga penutupan akhir pekan lalu.

Sedangkan harga minyak brent untuk pengiriman Maret 2020 di ICE Futures berada di US$ 65,76 per barel, naik 1,43% ketimbang akhir pekan lalu. 

Harga minyak menguat setelah pemblokiran ekspor di pelabuhan Libya yang akan mengurangi pasokan negara ini sekitar 800.000 barel per hari. Bloomberg melaporkan, pemblokiran pelabuhan ini pun menyebabkan perusahaan minyak nasional Libya menyatakan force majeure pada kontrak pengiriman.

Baca Juga: Masih panas, India: Tidak akan ada pertemuan dengan Malaysia di Davos soal CPO

Menurut jurubicara National Oil Corporation, produksi minyak Libya hanya akan mencapai 72.000 barel per hari setelah tangki penyimpanan penuh. Angka ini merosot dari produksi 1,2 juta barel per hari pada Sabtu. Menurut data Bloomberg, ini adalah level produksi terendah sejak Agustus 2011.

Produksi lainnya berasal dari ladang lepas pantai dan ladang minyak Wafa. Menurut sumber, ladang Sharara yang memompa 300.000 barel per hari akan berhenti produksi setelah tangki penuh.

Produksi mulai menurun setelah komandan militer timur Khalifa Haftar memblokir pelabuhan ekspor. "Ini adalah gangguan terkait kebijakan. Akan ada pembalikan cepat jika ada solusi politik," kata Edward Bell, director of commodity research Emirates NBD PJSC kepada Bloomberg.

Baca Juga: Dalam dokumen pemakzulan, Demokrat: Trump membahayakan keamanan AS

Selain itu, Irak menghentikan sementara pekerjaan di sebuah lapangan minyak pada Minggu (19/1) dan pasokan dari lokasi produksi kedua karena risiko kerusuhan yang meluas di negara produsen terbesar kedua OPEC ini. Desember lalu, Irak memproduksi minyak 4,65 juta barel per hari.

Potensi gangguan pasokan in memanaskan harga minyak yang mulai menanjak setelah kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dan China pekan lalu. Harga minyak menanjak seiring dengan harapan bahwa impor minyak China akan meningkat.




TERBARU

Close [X]
×