Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah turun pada perdagangan Rabu (7/10/2026), setelah Badan Energi Internasional (IEA) sepakat mempercepat pelepasan cadangan minyak untuk meredam lonjakan harga bahan bakar di tengah tekanan pasokan akibat konflik Iran dan ketegangan di Timur Tengah.
IEA menyebut percepatan pelepasan cadangan yang sebelumnya telah diumumkan berpotensi membawa sekitar 100 juta barel minyak ke pasar. Namun, sejumlah analis dan pemerintah menilai angka tersebut tidak berarti ada intervensi baru sebesar itu.
Minyak Brent turun 38 sen atau 0,38% menjadi US$100,20 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$1,16 atau 1,3% menjadi US$ 88,28 per barel.
Baca Juga: Pasokan Terancam, Harga Minyak Brent Diproyeksi Melesat ke US$ 125
"Langkah ini mengurangi sebagian tekanan terhadap pasokan AS," kata John Kilduff, partner Again Capital.
Prancis juga akan melepas 10 juta barel diesel dari cadangan strategisnya. Kebijakan tersebut dilakukan ketika pasar bahan bakar Eropa menghadapi tekanan pasokan.
Di AS, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober.
Penurunan ini berlawanan dengan proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan 1,7 juta barel.
Namun, risiko gangguan pasokan masih menahan penurunan harga minyak. Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke Bandara Internasional Aden, sementara konflik di Timur Tengah dan Ukraina terus mengancam infrastruktur energi.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun US$ 2, Ekspor Timur Tengah Mulai Pulih
Di AS, badai yang berkembang di Teluk Meksiko juga berpotensi mengganggu produksi dan fasilitas minyak serta gas. Wilayah tersebut menghasilkan sekitar 2,05 juta barel minyak per hari pada September atau sekitar 15% dari total produksi AS.
Menurut perkiraan Earth Science Associates, sekitar 11,2 juta barel produksi minyak berpotensi terdampak selama badai berlangsung. Kondisi ini menjadi tambahan risiko bagi pasar yang masih menghadapi berbagai gangguan dari sisi pasokan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














