kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,46   1,15   0.12%
  • EMAS1.343.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Logam Industri Masih Berpeluang Naik hingga Akhir Tahun 2023


Jumat, 15 September 2023 / 21:54 WIB
Harga Logam Industri Masih Berpeluang Naik hingga Akhir Tahun 2023
ILUSTRASI. Langkah-langkah pemerintah China untuk mendukung pemulihan ekonomi diprediksi dapat mengangkat harga logam industri. REUTERS/Ivan Alvarado/File Photo


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah-langkah pemerintah China untuk mendukung pemulihan ekonomi diprediksi dapat mengangkat harga logam industri di tengah masih tingginya persediaan. Sebagai contoh, tembaga yang digunakan dalam pembangkit listrik dan konstruksi harganya tertahan pada tahun ini karena lesunya permintaan dari China. 

Pada Kamis (14/9), harga tembaga di London Metal Exchange (LME) menguat 0,31% ke US$ 8.417 per metrik ton. Sementara dalam sebulan terakhir, harga tembaga naik 1,52%.

Namun, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai, kenaikan harga yang terjadi pada logam industri hanya bersifat sementara. Pasalnya, kebijakan yang diambil pemerintah China ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar.

Baca Juga: Malaysia Berencana Setop Ekspor Logam Tanah Jarang (LTJ), RI Mau Ikutan?

Para pelaku pasar berharap, bank sentral China dapat melakukan pemangkasan suku bunga acuan 25 basis points (bps). Akan tetapi, pada kenyataannya, bank sentral China hanya melakukan pemotongan rasio cadangan bank.

"Penurunan rasio cadangan bank masih belum bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi China itu membaik. Dari bulan-bulan sebelumnya rupanya pemerintah dan bank sentral China tidak serta merta mengikuti pasar," tutur Ibrahim saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (15/9).

Lebih lanjut, kenaikan harga logam industri belakangan ini juga didukung oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) yang masih mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,25%-5,50%. The Fed kemungkinan baru akan menaikkan suku bunganya pada pertemuan November 2023 dengan terlebih dahulu memantau perkembangan tingkat inflasi.

Namun, meski perekonomian China belum menunjukkan kemajuan yang signifikan, ada sentimen-sentimen positif lain yang dapat menopang harga komoditas, termasuk logam industri. Mulai dari potensi musim dingin yang ekstrem pada November 2023-Februari 2024 serta konflik geopolitik Rusia dan Ukraina yang masih berkecamuk.

Ibrahim memprediksi, harga komoditas logam industri akan terkoreksi terlebih dahulu pada pekan ini. Namun, harganya akan kembali naik di sisa tahun ini. Ia memperkirakan, harga tembaga akan berada di sekitar US$ 9.000 per metrik ton di akhir tahun 2023, alumunium US$ 2.350, dan timah dapat menanjak ke US$ 26.100 per metrik ton.

Ibrahim menyarankan investor untuk berhati-hati dan terus memantau kondisi pasar. Saat terjadi koreksi dalam, momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melakukan pembelian karena ada potensi kenaikan yang cukup bagus hingga akhir tahun.

Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo menambahkan, pemulihan ekonomi China memang belum meyakinkan. China merupakan konsumen utama logam industri global dengan impor lebih dari 70% bijih besi global, 72% alumunium, dan lebih dari 60% tembaga.

Namun, dalam jangka pendek, ia melihat harga komoditas masih potensial untuk naik seiring dengan ekonomi AS yang masih jauh dari resesi. 

"Ekonomi China yang melambat juga masih  didorong dengan stimulus fiskal dan moneter," ucap Wahyu.

Baca Juga: Peluang Industri 4.0 Makin Tumbuh, ABB Terus Genjot Otomatisasi

Menurutnya, pemerintah China akan selalu pro terhadap stimulus karena tidak mungkin membiarkan ekonominya terganggu. Hal ini pada akhirnya akan berefek positif pada harga komoditas.

Wahyu memprediksi, harga tembaga masih potensial ke level US$ 8.500 per metrik ton di akhir tahun 2023. Kemudian, alumunium konsolidatif di US$ 2.100-US$ 2.600, nikel US$ 19.000-US$ 25.000, sedangkan timah melemah ke US$ 22.000-US$ 32.000.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×