kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Harga karet tertekan gejolak politik Thailand


Rabu, 28 Mei 2014 / 19:08 WIB
ILUSTRASI. 4 Cara Memutihkan Siku dan Lutut Secara Alami, Tidak Sulit!


Reporter: Handoyo | Editor: Edy Can


JAKARTA. Harga karet di pasar internasional tampaknya masih akan tertekan dan sulit melar dalam waktu dekat. Penyebabnya karena situasi politik dalam negeri Thailand yang sedang memanas.

Thailand adalah salah satu produsen karet terbesar di dunia. Negeri Siam ini menjadi anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) bersama Indonesia dan Malaysia.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menjelaskan, gejolak politik dalam negeri Thailand itu membuat petani tidak mendapat dukungan optimal dari pemerintah. "Sehingga mereka panic selling menjual secara berlebihan tidak terkendali," kata Bayu, Rabu (28/5).

Pemerintah Indonesia mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk kembali mengerek harga karet. Sekedar informasi saja, harga karet internasional saat ini masih berada dikisaran US$ 2 per kilogram (kg). Harga ini terus menurun sejak akhir tahun lalu. Bahkan memasuki kuartal II tahun ini harga karet sempat menyentuh US$ 1,6 per kg.

Agar tren anjloknya harga karet internasional tersebut tidak terus berlanjut dan berkepanjangan, pemerintah Indonesia mengusulkan agar ITRC ditingkatkan dan dikembangkan menjadi Asean Rubber Committee atau Asean Rubber Cooperation.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×