kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Harga emas stagnan menunggu kejelasan kesepakatan dagang AS-China


Rabu, 27 November 2019 / 08:02 WIB
Harga emas stagnan menunggu kejelasan kesepakatan dagang AS-China
ILUSTRASI. Rabu (27/11) pukul 7.49 WIB, harga emas spot berada di US$ 1.460,85 per ons troi, turun 0,04% ketimbang harga kemarin.

Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas belum banyak bergerak dari posisi kemarin. Rabu (27/11) pukul 7.49 WIB, harga emas spot berada di US$ 1.460,85 per ons troi, turun 0,04% ketimbang harga kemarin.

Sedangkan harga emas berjangka untuk pengiriman Februari 2020 di Commodity Exchange berada di US$ 1.467,60 per ons troi, naik tipis dari harga penutupan perdagangan kemarin pada US$ 1.467,40 per ons troi.

Pekan ini, harga emas cenderung turun ketimbang pekan lalu karena optimisme kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Tapi, masih ada kehati-hatian investor yang menahan penurunan harga emas dari kejatuhan lebih dalam.

Baca Juga: Trump: Kesepakatan dengan China semakin dekat, tapi AS juga mengawasi isu Hong Kong

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, rencana kesepakatan bisa runtuh hanya dengan satu tweet Presiden AS Donald Trump. Oleh karena itu, investor cenderung berhati-hati menyikapi optimisme yang muncul belakangan.

"Beberapa hari perdagangan terakhir, harga emas tertekan aksi jual karena harapan kesepakatan dagang. Sekarang, harga emas tertahan dan berada dalam mode wait and see," kata Bob Haberkorn, senior market strategist RJO Futures kepada Reuters.

Baca Juga: Wall Street lagi-lagi mencetak rekor tertinggi

Michael Matousek, head trader US Global Investors menambahkan, ada kabar pasar yang menyebutkan bahwa kesepakatan fase satu akan diteken tanpa ada event tertentu. Dia menambahkan bahwa kesepakatan fase satu ini hanya akan memasukkan sedikit substansi.

"Pasar akan bergerak tak menentu dalam satu sampai dua pekan hingga ada informasi lagi dari Federal Reserve dan kesepakatan dagang AS-China" kata Matousek.




TERBARU

Close [X]
×