Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga emas dunia pada perdagangan pekan ini masih menghadapi tekanan setelah pergerakan XAUUSD menunjukkan indikasi memasuki fase bearish pada timeframe daily. Pelaku pasar akan mencermati kemampuan emas menembus zona resistance utama di tengah sentimen hawkish Federal Reserve (The Fed).
Mengutip data Trading Economics per Jumat (18/9/2026), harga emas spot berada di level US$4.383,45 per ons troi atau menguat 0,97% (42,06 poin) dalam sehari.
Kenaikan tersebut memangkas penurunan secara bulanan menjadi minus 2,97%. Namun, secara Year to Date (YtD), harga emas masih menguat 1,47% dan tumbuh 18,96% secara tahunan (Year on Year/YoY).
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menjelaskan bahwa harga emas saat ini sedang membentuk secondary trend dan tertahan di sekitar zona resistance kuat 4.357 hingga 4.403.
Selama pergerakan XAUUSD belum mampu menembus sekaligus bertahan di atas area tersebut, tekanan bearish diproyeksikan masih akan mendominasi pasar.
Baca Juga: Risiko Fiskal Bayangi Pergerakan CDS Indonesia hingga Akhir 2026
"Selain struktur tren, pola Head and Shoulders yang terbentuk pada grafik daily juga menjadi indikasi adanya potensi pelemahan apabila harga gagal mengatasi resistance dan tekanan jual kembali meningkat," ujar Geraldo dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).
Di sisi lain, harga emas sempat memperoleh sentimen positif pada perdagangan terbaru setelah mencatat penguatan lebih dari 2%.
Penguatan harga emas tersebut didorong oleh pelemahan indeks dolar AS (USD) serta penurunan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun yang sempat menyentuh level 5%.
Selain itu, penurunan harga minyak mentah turut meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi harga emas untuk mengalami pemulihan atau rebound.
Meski demikian, pergerakan harga emas masih dibayangi oleh kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed).
Bank sentral AS tersebut baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dan memberikan sinyal bahwa kebijakan pengetatan moneter belum berakhir.
Data proyeksi terbaru menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed masih membuka peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun.
Baca Juga: Prediksi USD/JPY Sepekan ke Depan, Berpeluang Naik ke 158.427
Suku bunga yang tinggi meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas. Pasalnya, emas merupakan aset tanpa imbal hasil atau zero yield, sehingga kenaikan tingkat suku bunga dapat mengurangi daya tarik aset safe haven tersebut dibandingkan instrumen berbasis bunga.
Dengan demikian, arah harga emas pada perdagangan pekan ini akan dipengaruhi tarik-menarik antara sinyal hawkish The Fed dan pergerakan sejumlah indikator utama, seperti dolar AS, yield US Treasury, serta harga energi.
Geraldo memproyeksikan harga emas pekan ini masih berpotensi mengalami pelemahan apabila XAUUSD belum mampu melewati zona resistance utama 4.357–4.403.
Dalam skenario pelemahan teknikal tersebut, harga emas diperkirakan berpotensi turun untuk menguji area support terdekat di level 4.282.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














