Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga emas global diperkirakan masih akan menguat signifikan sepanjang 2026, ditopang oleh kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), serta peningkatan permintaan dari investor dan bank sentral dunia.
Pada Kamis, 29 Januari 2026, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali melonjak. Mengutip situs Logam Mulia, harga emas Antam pecahan satu gram tercatat di level Rp 3.168.000.
Harga tersebut naik Rp 165.000 dibandingkan dengan posisi Rabu (28/1/2026) yang berada di level Rp 3.003.000 per gram. Kenaikan ini mencerminkan tren penguatan harga emas yang terus berlanjut di pasar domestik.
Baca Juga: Harga Emas Antam Rekor Naik Rp 165.000 Menjadi Rp 3.168.000 Per Gram, Kamis (29/1)
Di pasar global, tren kenaikan juga terlihat signifikan. Mengutip Trading Economics per pukul 15.00 WIB, harga emas spot menyentuh US$ 5.550,02 atau naik 98,49% secara tahunan (year on year/YoY).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia pada 2026 masih berpotensi melonjak lebih tinggi hingga menyentuh US$ 6.500 per troy ons.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, harga emas Logam Mulia di dalam negeri juga diperkirakan ikut terdorong naik tajam. "Kini proyeksi tersebut saya naikkan menjadi Rp4.200.000 per gram di tahun 2026," ujar Ibrahim, Kamis (29/1/2026).
Menurut Ibrahim, penguatan harga emas dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik di berbagai kawasan dunia, mulai dari konflik di Timur Tengah, perang Rusia–Ukraina yang berkepanjangan, hingga meningkatnya ketegangan di kawasan Asia Timur.
Kondisi tersebut mendorong investor global memburu emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global.
Selain faktor geopolitik, perang dagang yang kembali memanas antara Amerika Serikat dengan Uni Eropa, Tiongkok, Korea Selatan, hingga Jepang turut memberikan tekanan terhadap nilai dolar AS. Pelemahan dolar AS ini menjadi katalis positif yang memperkuat kenaikan harga emas.
Baca Juga: Harga Emas Antam Melonjak Rp 52.000 Menjadi Rp 2.968.000 Per Gram, Rabu (28/1)
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga mencermati potensi perubahan arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed). Dengan adanya pergantian kepemimpinan bank sentral AS pada 2026, suku bunga acuan dinilai berpeluang diturunkan lebih agresif.
“Penurunan suku bunga dan melemahnya dolar akan menjadi alasan kuat bagi investor untuk meningkatkan eksposur ke emas,” tambahnya.
Tak hanya investor ritel dan institusi, bank-bank sentral global juga tercatat terus meningkatkan cadangan emas mereka. Bank sentral Tiongkok, Rusia, India, hingga sejumlah negara di Eropa dan Amerika Latin aktif memborong emas sebagai langkah diversifikasi cadangan devisa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Sementara itu, dari sisi domestik, prospek harga emas batangan dinilai tetap cerah. Keterbatasan pasokan akibat ekspor bijih emas serta produksi dalam negeri yang belum optimal dinilai turut mendorong potensi kenaikan harga emas di pasar lokal.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, emas dipandang masih menjadi instrumen investasi yang sangat menarik di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global sepanjang 2026.
Selanjutnya: Konversi Waran Seri I Bank Aladin (BANK), Saham Beredar Bertambah 64,5 Juta
Menarik Dibaca: 4 Tips Parenting Anak Gen Alpha, Bantu Anak Tumbuh Seimbang di Era Digital
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













