Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia masih bergerak terbatas di kisaran US$ 4.100 per ons troi dan belum mampu melanjutkan penguatan secara signifikan. Sejalan, harga emas Logam Mulia Antam juga masih tertahan.
Melansir Trading Economics pada Senin (19/10) pukul 17.20 WIB harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.172 per ons troi atau menguat 0,15% harian tetapi masih mencatatkan koreksi 3,92% dalam sebulan terakhir.
Sementara itu, ada Senin (19/10/2026) harga emas Antam ada di level Rp 2.574.000 per gram. Sementara itu, harga buyback emas Antam ada di level Rp 2.389.000 per gram.
Baca Juga: Surya Semesta (SSIA) Cetak Laba, Cermati Prospek dan Tantangannya Hingga Akhir 2026
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, mengatakan ekspektasi kebijakan The Fed yang masih hawkish, inflasi Amerika Serikat (AS) yang tinggi, serta ketidakpastian arah suku bunga hingga akhir tahun menjadi faktor utama yang menahan kenaikan harga emas.
Menurut dia, meskipun probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober turun dari sekitar 30% menjadi 15%, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 90%.
“Penurunan yield Treasury memang membantu pemulihan emas, tetapi belum cukup untuk mengubah sentimen secara signifikan. Selain itu, konflik Timur Tengah turut meningkatkan permintaan dolar AS sebagai safe haven, sehingga membatasi penguatan emas,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Senin (19/10/2026).
Ia mencermati harga emas saat ini masih berada dalam fase konsolidasi, apalagi setelah terkoreksi jauh dari area US$ 4.700 per ons troi. Dengan demikian, penguatan yang terjadi belum cukup untuk mengonfirmasi terbentuknya tren bullish baru.
Di tengah kondisi tersebut, kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama memang meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang emas. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga atau kupon seperti sejumlah instrumen keuangan lainnya.
Kendati demikian, Brahmantya menyebut kondisi tersebut belum menghilangkan daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai dan diversifikasi portofolio dalam jangka panjang.
Baca Juga: Ini Hasil Pertemuan BEI dan MSCI, BEI Siapkan Dua Aturan Baru Simak Rinciannya!
Salah satu penopang fundamental emas adalah pembelian oleh bank sentral global. Brahmantya mencatat pembelian bersih emas yang dilaporkan mencapai sekitar 39 ton pada Agustus 2026, dengan akumulasi sekitar 170 ton sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
China, Polandia, dan Uzbekistan termasuk negara yang aktif menambah cadangan emas. Brahmantya menilai, langkah tersebut mencerminkan upaya diversifikasi cadangan devisa dan pengurangan risiko ketergantungan terhadap aset berbasis dolar AS.
Di dalam negeri, minat investasi emas juga berpotensi tetap terjaga, terutama sebagai instrumen lindung nilai. Namun, harga yang relatif tinggi membuat investor perlu lebih selektif dalam menentukan waktu pembelian.
Karena itu, dia melihat koreksi harga emas sebagai peluang bagi investor untuk melakukan buy on weakness atau membeli ketika harga melemah. Strategi yang dapat dipertimbangkan adalah akumulasi secara bertahap, bukan membeli dalam jumlah besar sekaligus.
Baca Juga: Harga Anjlok & Kena ARB, Manajemen BBCA Eksekusi Buyback
Dari sisi prospek, Brahmantya memperkirakan harga emas dunia berpeluang pulih ke kisaran US$ 4.300–US$ 4.600 per ons troi hingga akhir 2026.
Untuk emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Brahmantya memperkirakan harga berpotensi berada di kisaran Rp 2,55 juta-Rp 2,80 juta per gram hingga akhir 2026.
Bagi investor yang ingin mulai mengakumulasi emas Antam, Brahmantya melihat area Rp 2,45 juta-Rp 2,50 juta per gram dapat dipertimbangkan sebagai tahap awal. Investor juga dapat mengevaluasi penambahan pembelian apabila harga terkoreksi lebih jauh menuju kisaran Rp 2,3 juta-Rp 2 juta per gram.
Namun, strategi tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan sentimen serta selisih harga jual dan harga pembelian kembali (buyback).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














