Sumber: Reuters | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street memulai perdagangan pada Senin (6/4) pekan ini dengan torehan positif. Investor tampak bergairah merespons prospek de-eskalasi konflik di Timur Tengah, setelah bursa mencatatkan lonjakan mingguan terbesar dalam empat bulan pada sesi sebelumnya.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa AS, Iran, dan mediator regional tengah menggodok syarat-syarat potensi gencatan senjata selama 45 hari.
Meskipun kantor berita IRNA melaporkan Iran masih menekankan pengakhiran perang secara permanen, pasar cenderung melihat celah diplomasi ini sebagai sinyal positif.
Apalagi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menetapkan tenggat waktu hari Selasa terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
"Optimisme ini berakar dari pembicaraan gencatan senjata. Maret adalah periode yang penuh tekanan, dan investor kini berupaya mencari alasan untuk kembali masuk ke pasar," ujar Melissa Brown, Direktur Pelaksana Riset Keputusan Investasi di SimCorp.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Bervariasi Senin (6/4): Pasar Cermati Peluang Damai AS-Iran
Sektor Keuangan dan Teknologi Jadi Motor
Indeks keuangan S&P 500 memimpin penguatan dengan kenaikan 0,7%, ditopang oleh laju saham JPMorgan Chase dan Visa yang sekaligus mengangkat indeks Dow Jones.
Sektor teknologi mengekor di jalur hijau, terutama emiten produsen chip. Saham Seagate terbang 6,6% setelah Morgan Stanley menetapkannya sebagai daftar pilihan utama (top pick). Indeks SE Semiconductor Philadelphia pun terkerek 0,9%.
Hingga pukul 11:50 pagi Waktu AS, Dow Jones Industrial Average naik 83,20 poin (0,18%) ke level 46.587,48. S&P 500 menguat 16,71 poin (0,25%) ke posisi 6.599,40, sementara Nasdaq Composite melesat 88,32 poin (0,40%) ke angka 21.967,50.
Namun, penguatan bursa tertahan oleh terkoreksinya saham sektor pertambangan sebesar 0,6% dan sektor perawatan kesehatan yang turun 0,3%. Volume perdagangan diprediksi tipis mengingat sejumlah pasar di Asia dan Eropa masih tutup memperingati hari libur nasional.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Memanas, Kontrak Berjangka Wall Street Kembali Tertekan
Menanti Data Inflasi
Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada rilis data inflasi domestik pekan ini. Data tersebut krusial untuk memotret sejauh mana lonjakan harga energi akibat konflik telah merembet ke ekonomi AS.
Di sisi lain, data tenaga kerja yang solid pada Maret lalu memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk tetap fokus pada mandat stabilitas harga.
Berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pasar saat ini belum memperhitungkan adanya pelonggaran kebijakan moneter (pemangkasan suku bunga) di tahun ini, berbalik drastis dari proyeksi dua kali pemangkasan sebelum konflik pecah.
Dari sisi makro, indeks manajer pembelian non-manufaktur ISM Maret tercatat di level 54, sedikit di bawah estimasi ekonom di angka 54,9.
Tonton: Trump Ultimatum Iran Buka Hormuz 48 Jam! Iran Ancam Pintu Neraka untuk AS!
Aksi Korporasi dan Kripto
Di deretan saham individu, Soleno Therapeutics melonjak drastis sekitar 32%. Aksi beli masif ini terjadi setelah Neurocrine Biosciences sepakat mencaplok produsen obat penyakit langka tersebut senilai $2,9 miliar secara tunai.
Sentimen positif juga mengguyur saham terkait mata uang kripto seiring kenaikan harga Bitcoin. Saham Coinbase naik 2,8% dan MicroStrategy terdongkrak 5,7%.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik mendominasi dengan rasio 1,44 banding 1 di NYSE dan 1,74 banding 1 di Nasdaq. S&P 500 sukses mencetak tujuh rekor tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir.
Tonton: IHSG Turun ke 6.971 di Sesi I (6/4), Ini Saham Paling Tertekan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













