Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan di pasar saham Indonesia kian terasa setelah Goldman Sachs menurunkan rekomendasi pasar saham Indonesia menjadi underweight, menyusul keputusan MSCI yang menyoroti risiko investabilitas di Bursa Efek Indonesia.
Langkah ini memicu kekhawatiran lanjutan terkait potensi arus dana asing keluar dari Tanah Air.
Goldman Sachs memperkirakan potensi outflow pasif dari pasar saham Indonesia bisa mencapai US$ 2,2 miliar hingga US$ 7,8 miliar sebagai dampak lanjutan dari kebijakan MSCI tersebut.
Baca Juga: Goldman Sachs Turunkan Peringkat Saham Indonesia Usai Peringatan Risiko MSCI
Risiko ini dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan porsi kepemilikan asing yang tinggi.
Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, menilai pemangkasan rating Goldman Sachs pada dasarnya merupakan respons langsung atas keputusan MSCI.
“Goldman Sachs ini mereferensi keputusan MSCI kemarin. Potensi dana asing keluar akibat keputusan MSCI membuat Goldman Sachs menurunkan rating pasar saham Indonesia,” ujar Hans kepada Kontan, Kamis (29/1/2026).
Meski demikian, Hans menilai tekanan tersebut lebih bersifat jangka pendek. Menurutnya, koreksi yang terjadi lebih didorong sentimen ketimbang perubahan fundamental ekonomi domestik.
“Saya pikir jangka pendek saja. Minggu depan pasar saham kita sudah beli aman,” ungkapnya.
Baca Juga: Goldman Sachs Raup Untung Besar! Laba Kuartal III Tembus US$4,1 Miliar
Sejalan dengan itu, pengamat pasar modal Irwan Ariston menilai koreksi tajam IHSG yang terjadi belakangan lebih mencerminkan panic selling akibat sentimen global, bukan pelemahan kinerja emiten secara struktural.
“Pemangkasan rating Goldman Sachs menjadi pemicu koreksi lanjutan jangka pendek IHSG setelah kemarin turun tajam akibat MSCI. Karena koreksi ini belum mencerminkan perubahan fundamental ekonomi maupun kinerja emiten, peluang rebound cepat sangat dimungkinkan,” jelas Irwan.
Irwan menambahkan, tekanan jual asing memang masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat, terutama dari investor yang menyesuaikan portofolio pasca pengumuman MSCI. Namun, ruang koreksi dinilai mulai terbatas.
“Sebagian aksi jual sebenarnya sudah terjadi saat koreksi tajam kemarin. Di level harga tertentu yang dianggap murah, akan muncul bargain hunter,” ujarnya.
Dari sisi saham, Irwan menyebut emiten berkapitalisasi besar dengan kepemilikan asing tinggi menjadi yang paling terdampak aksi jual, terutama sektor perbankan besar, komoditas, dan teknologi.
Baca Juga: Prediksi 2035 Goldman Sachs: Saham AS Tak Lagi Jawara, Pasar Asia Diproyeksi Melejit
“Tekanan masih bisa berlanjut di saham-saham tersebut selama arus dana asing belum stabil,” kata Irwan.
Namun, ia menegaskan koreksi kali ini lebih disebabkan faktor psikologis pasar.
“Ini lebih ke panic selling dan SOP institusi asing dalam merespons sentimen global. Tidak ada revisi signifikan terhadap proyeksi laba emiten maupun indikator makro utama,” tambahnya.
Ke depan, Irwan melihat peluang rebound IHSG tetap terbuka, dengan sektor perbankan besar dan konsumsi defensif berpotensi menjadi penopang pemulihan.
“Saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, dan ketahanan laba tinggi biasanya akan rebound cepat ketika tekanan sentimen mereda,” pungkas Irwan.
Selanjutnya: Simak Prospek DPUM dan ASLI yang Akan Punya Pengendali Baru
Menarik Dibaca: IHSG Anjlok, Ini Proyeksi dan Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas Kamis (29/1)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












