kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.706   62,71   1,11%
  • KOMPAS100 737   9,52   1,31%
  • LQ45 558   5,20   0,94%
  • ISSI 199   2,08   1,06%
  • IDX30 316   2,13   0,68%
  • IDXHIDIV20 390   0,47   0,12%
  • IDX80 84   0,86   1,03%
  • IDXV30 106   -0,37   -0,35%
  • IDXQ30 102   0,44   0,43%

Garuda Indonesia malah untung saat dollar AS menguat


Minggu, 29 April 2018 / 19:26 WIB
ILUSTRASI. Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Ngurah Rai, Bali


Reporter: Harry Muthahhari | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyebut justru memperoleh keuntungan ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) melemah. Garuda menyebut telah melakukan hedging untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar.

Sekedar informasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sempat melemah hampir menyentuh Rp 14.000 per dollar AS. Jumat (27/4), kurs rupiah di pasar spot berada di Rp 13.893 per dollar AS.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Helmi Imam Satriyono mengatakan, memang 80% pendapatan Garuda dalam mata uang rupiah. “Sisanya sekitar 20% itu mata uang asing,” katanya saat dihubungi Kontan.co.id pada Jumat (27/4).

Helmi menambahkan, karena sudah melakukan hedging, Garuda Indonesia berpotensi memperoleh pendapatan foreign exchange lebih besar. Selama ini, Garuda Indonesia mencatat laporan keuangan dalam mata uang dollar Amerika Serikat. Karena pembukuan menggunakan dollar AS, maka mata uang rupiah akan dinilai sebagai mata uang asing.

Namun, Garuda justru menghadapi tantangan kenaikan harga bahan bakar. Garuda tidak bisa serta-merta menaikkan harga tiket karena kenaikan beban ini. “Mempertimbangkan persaingan juga,” jelas Helmi.

Bagi Helmi, dalam kondisi harga bahan bakar yang kurang menguntungkan ini, yang terbaik untuk dilakukan adalah dengan melakukan efisiensi keuangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×