kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.093   -96,00   -0,53%
  • IDX 5.030   110,49   2,25%
  • KOMPAS100 648   16,04   2,54%
  • LQ45 514   12,41   2,48%
  • ISSI 166   2,88   1,77%
  • IDX30 289   6,27   2,22%
  • IDXHIDIV20 389   6,59   1,72%
  • IDX80 75   1,80   2,47%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,35%

Emiten Unggas Catat Kinerja Apik per Kuartal III-2026, Ini Rekomendasi Sahamnya


Kamis, 05 November 2026 / 18:08 WIB
Emiten Unggas Catat Kinerja Apik per Kuartal III-2026, Ini Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Para analis memberikan rekomendasi saham pilihan untuk emiten unggas setelah cetak kinerja moncer dalam sembilan bulan pertama 2026 (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di sektor perunggasan mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan hingga kuartal III-2026. Pertumbuhan tersebut tercermin dari peningkatan pendapatan dan laba bersih yang dibukukan oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), dan PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP). 

Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perusahaan, JPFA membukukan pendapatan sebesar Rp 54,52 triliun hingga September 2026. Realisasi tersebut meningkat 26% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih JPFA juga tumbuh 34% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja positif juga dicatatkan CPIN. Emiten unggas ini meraih pendapatan sebesar Rp 60,2 triliun atau meningkat 18,9% YoY. Sementara itu, laba bersih CPIN melonjak 54% menjadi Rp 5,18 triliun hingga kuartal III-2026. 

Selanjutnya, MAIN mencatatkan pendapatan sebesar Rp 11,32 triliun, tumbuh 22% YoY. Dari sisi bottom line, laba bersih MAIN juga meningkat 24,89% menjadi Rp 169,41 miliar. 

Baca Juga: Ekspansi Gerai Azko (ACES) Tertinggal dari Target, Begini Prospek Sahamnya

Sementara itu, WMPP turut menunjukkan perbaikan kinerja keuangan. Perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 961,9 miliar atau meningkat 40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tak hanya itu, WMPP berhasil membalikkan kinerja dari sebelumnya mencatatkan kerugian menjadi laba bersih sebesar Rp 103,10 miliar. 

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan pertumbuhan kinerja emiten unggas ditopang oleh peningkatan permintaan ayam dan telur, perbaikan harga jual, serta efisiensi operasional. 

"Program MBG juga menjadi katalis tambahan melalui peningkatan kebutuhan protein hewani. Namun, kontribusinya berbeda pada setiap emiten dan belum menjadi satu-satunya faktor pendorong pertumbuhan," kata Azis.

Disamping itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta berpendapat pertumbuhan kinerja keuangan emiten perunggasan hingga kuartal III-2026 didorong oleh kombinasi peningkatan permintaan domestik, pertumbuhan volume penjualan, serta perbaikan efisiensi operasional dan struktur biaya produksi. 

Selain itu, stabilitas harga pakan, pengelolaan biaya bahan baku seperti jagung dan bungkil kedelai, serta pengendalian biaya distribusi turut berkontribusi terhadap peningkatan margin keuntungan perusahaan.

Baca Juga: OJK Siapkan Sanksi Pidana bagi Pelanggar Pasar Modal, Tak Cukup Hanya Denda

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berpotensi menjadi salah satu katalis positif bagi industri perunggasan. Ini karena implementasi program tersebut mendorong peningkatan kebutuhan protein hewani, khususnya telur dan daging ayam, yang merupakan sumber protein dengan harga relatif terjangkau. 

"Peningkatan kebutuhan tersebut dapat menciptakan tambahan permintaan bagi produsen unggas, baik secara langsung maupun melalui rantai pasok katering dan penyedia makanan," tambah Nafan.

Azis bilang, prospek sektor unggas masih positif hingga 2027, didukung oleh peningkatan konsumsi protein hewani, pertumbuhan permintaan dari program MBG, serta perbaikan harga jual produk unggas. 

Meski demikian, investor perlu mencermati fluktuasi harga bahan baku pakan, risiko kelebihan pasokan, dan keberlanjutan realisasi program pemerintah.

Senada, Nafan menjelaskan, sektor perunggasan masih memiliki peluang pertumbuhan yang cukup prospektif hingga 2027. Ini didukung oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat, potensi ekspansi program MBG, serta pertumbuhan konsumsi domestik seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

 

Dari sisi emiten, JPFA dan CPIN memiliki keunggulan dari skala usaha, integrasi bisnis, jaringan distribusi, serta diversifikasi produk yang relatif kuat. Keduanya berpotensi mempertahankan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas apabila harga jual ayam dan DOC (Day Old Chick) tetap kondusif serta biaya pakan dapat dikelola dengan baik.

Azis merekomendasikan buy saham JPFA dengan target harga Rp 3.140 per saham. Adapun Nafan merekomendasikan wait and see untuk saham CPIN, JPFA, MAIN dan WMPP.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×