kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Emiten Emas Ini Diprediksi Diuntungkan dengan Hadirnya Asosiasi Pasar Bullion


Senin, 24 Agustus 2026 / 05:43 WIB
Emiten Emas Ini Diprediksi Diuntungkan dengan Hadirnya Asosiasi Pasar Bullion
ILUSTRASI. Emiten Emas Ini Diprediksi Diuntungkan dengan Hadirnya Asosiasi Pasar Bullion


Reporter: Dimas Andi | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - 

# IBMA Meluncur, Saham Emas ANTM HRTA BRMS hingga AMMN Berpotensi Cuan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) dinilai dapat menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten yang memiliki bisnis terkait emas. 

IBMA resmi diluncurkan pada Kamis (20/8/2026) dan beranggotakan pelaku usaha yang bergerak di sektor pertambangan emas, manufaktur, perdagangan emas batangan, perusahaan pembiayaan, hingga lembaga keuangan non-bank.

Sejumlah entitas yang telah bergabung antara lain PT Pegadaian, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana, PT Sentral Kreasi Kencana, dan PT Laku Emas Indonesia.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, dampak kehadiran IBMA terhadap emiten emas cenderung positif, meski manfaatnya diperkirakan lebih terasa dalam jangka menengah hingga panjang.

Menurut dia, IBMA dapat membantu membangun ekosistem bullion domestik yang lebih terintegrasi, transparan, dan efisien. Ekosistem tersebut mencakup rantai bisnis dari hulu hingga hilir, termasuk standardisasi serta mempertemukan produsen, manufaktur, pedagang, bullion bank, dan investor.

Emiten tambang emas berpotensi diuntungkan

Dalam jangka panjang, IBMA berpotensi memperbesar permintaan emas karena akses masyarakat dan institusi terhadap berbagai produk emas semakin luas.

Namun, keberadaan IBMA tidak serta-merta meningkatkan produksi tambang emas. Dampak yang lebih besar bagi emiten sektor hulu akan terjadi apabila peningkatan permintaan bullion dapat diterjemahkan menjadi penyerapan emas yang lebih tinggi dari produsen tambang.

Arinda menilai sejumlah emiten dari sisi hulu berpotensi memperoleh manfaat, seperti BRMS, ARCI, PSAB, AMMN, MDKA, dan EMAS.

Sementara itu, dari sisi hilir, ANTM dan HRTA dinilai relatif menarik karena mempunyai eksposur terhadap pemurnian, manufaktur, dan distribusi emas.

"Bahkan, BSI sebagai bullion bank telah mencatat emas kelolaan 24,01 ton per Juni 2026, menunjukkan bahwa ekosistem ini mulai menghasilkan permintaan riil," kata Arinda, Jumat (21/8).

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su juga melihat kehadiran IBMA sebagai sentimen positif bagi emiten emas.

Menurut Harry, IBMA dapat memperkuat ekosistem bullion domestik sekaligus mendorong permintaan investasi emas dalam jangka panjang.

Ia menilai HRTA dan ANTM berpotensi menjadi emiten yang paling diuntungkan pada segmen hilir. Sementara itu, BRMS dan AMMN dapat memperoleh manfaat dari sisi produksi.

Tonton: Uang Muka Haji 2027 Rp66,6 Miliar Diblokir Arab Saudi, Indonesia Protes

Emiten emas perlu perkuat bullion bank

Harry menilai emiten emas perlu meningkatkan kerja sama dengan bullion bank seiring terbentuknya ekosistem IBMA.

Selain itu, perusahaan juga perlu memperkuat kapasitas pemurnian atau refinery, sertifikasi, penelusuran produk, serta jaringan distribusi emas.

Langkah tersebut penting agar emiten dapat menangkap peluang pertumbuhan permintaan emas domestik.

Arinda mengatakan kerja sama dengan bullion bank seperti BSI, Pegadaian, dan institusi terkait dapat membuka sejumlah peluang. Di antaranya pembiayaan berbasis emas, penyerapan produksi emas, perdagangan bullion, hingga pengembangan produk investasi.

Emiten juga perlu memperkuat kontrak penjualan jangka panjang, meningkatkan kapasitas pemurnian dan manufaktur, memperluas jaringan distribusi emas batangan serta produk digital, dan memastikan standar kemurnian serta penelusuran memenuhi ketentuan pasar bullion.

Dengan strategi tersebut, emiten tidak hanya bergantung pada pergerakan harga emas global, tetapi juga berpeluang memperoleh akses yang lebih langsung ke konsumen ritel dan institusi.

"Bagi HRTA dan ANTM, strategi hilirisasi dan perluasan distribusi menjadi sangat penting, sedangkan bagi produsen tambang seperti BRMS, ARCI, PSAB, AMMN dan MDKA, kepastian offtake dan peningkatan produksi menjadi kunci," terang Arinda.

Tonton: Rektor Unsoed Diduga Peras Rp650 Juta, Calon Mahasiswa Malah Tak Lolos

Harga emas global tetap jadi sentimen utama

Meski IBMA menjadi katalis baru bagi industri emas domestik, sentimen utama terhadap saham emiten emas tetap berasal dari pasar global.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan investor antara lain volatilitas harga emas, arah suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, kondisi geopolitik global, pembelian emas oleh bank sentral, serta nilai tukar rupiah.

Harga emas yang berada di level tinggi dapat menjadi katalis positif bagi produsen karena berpotensi meningkatkan average selling price (ASP) dan margin.

Namun, dampaknya tidak akan sama bagi setiap emiten karena bergantung pada biaya produksi dan volume produksi masing-masing perusahaan.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (24/8), IHSG Berpeluang Menguat

Rekomendasi saham emas

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Arinda menyebut tiga saham yang dapat dicermati investor, yakni ANTM, HRTA, dan BRMS.

Ia memberikan target harga masing-masing sebesar Rp 4.500 per saham untuk ANTM, Rp 2.900 per saham untuk HRTA, dan Rp 830 per saham untuk BRMS.

Sementara itu, Harry memberikan rekomendasi beli untuk saham ANTM dengan target harga Rp 4.600 per saham. Rekomendasi tersebut didukung oleh eksposur ANTM terhadap bisnis emas dari hulu hingga hilir.

Harry juga merekomendasikan beli saham BRMS dengan target harga Rp 900 per saham. Menurut dia, BRMS menawarkan leverage yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan produksi maupun kenaikan harga emas.

Dengan demikian, peluncuran IBMA berpotensi memperkuat ekosistem emas domestik dan membuka peluang pertumbuhan bagi emiten di sepanjang rantai industri. Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan harga emas global dan faktor makroekonomi yang dapat memengaruhi kinerja saham sektor tersebut.


 

Warga Pati Geruduk DPR, Tuntut Perampasan Aset dan Hukuman Mati Koruptor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×