Reporter: Astri Kharina Bangun | Editor: Asnil Amri
JAKARTA. Pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bakal lebih banyak berpengaruh pada investor di pasar surat utang negara (SUN) ketimbang di pasar saham maupun obligasi korporasi.
Hal ini disebabkan investor SUN sangat mencermati kondisi inflasi, BI rate, dan kebijakan moneter, yang didalamnya mencakup kebijakan BBM.
"Investor SUN butuh kepastian. Naik atau tidak. Sama seperti S&P, mereka akan menunggu apakah pemerintah menaikkan BBM atau tidak," ujar Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan, Senin (23/4).
Menurutnya, dengan ketidakpastian ini, investor akan melihat yield SUN terlalu rendah. Ditambah dengan ekspektasi inflasi yang sudah mendahului kenaikan harga BBM subsidi. Fauzi berpendapat, SUN sulit untuk reli.
Berbeda dengan investor di pasar saham. Selama kebijakan BBM tidak menekan pertumbuhan ekonomi, maka investor saham tetap akan membeli. Berkaca pada kondisi tahun lalu, dimana pertumbuhan ekonomi 6,5%, laba korporasi naik 28%, dan laba perbankan tumbuh 31%.
Kondisi serupa juga berlaku untuk investor obligasi korporasi. "Selama emiten itu blue chip dan perusahaan tersebut memiliki reputasi yang bagus, maka masih diminati oleh investor," jelas Fauzi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News