kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45897,44   5,86   0.66%
  • EMAS1.357.000 -0,07%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Dirut Phapros: Harga produk farmasi naik 44% karena rupiah lemah & harga kemasan naik


Rabu, 22 April 2020 / 10:22 WIB
Dirut Phapros: Harga produk farmasi naik 44% karena rupiah lemah & harga kemasan naik
ILUSTRASI. Direktur Utama PT Phapros Tbk Barokah Sri Utami.foto/KONTAN/Muradi


Reporter: Azis Husaini | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Phapros Tbk (PEHA) tengah membuat financial stress test akibat rupiah melemah terhadap dolar AS, maklum anak usaha PT Kimia Farma Tbk (KAEF) ini masih mengimpor bahan baku obat untuk produksi obat.

Menurut Direktur Utama Phapros Barokah Sri Utami mengatakan, ada dua skenario pendapatan dan laba jika rupiah berada di level Rp 16.500 per dolar AS. Jika rupiah di angka tersebut maka pendapatan PEHA bisa mencapai Rp 135 miliar dengan penjualan Rp 1,5 triliun.

Baca Juga: Phapros (PEHA) tetap lanjutkan ekspansi meski ada wabah corona

Awalnya PEHA menargetkan laba bersih diangka Rp 186 miliar, artinya dengan rupiah di level tersebut ada penurunan laba bersih sekitar Rp 50 miliar. Ini karena ada kenaikan beban produksi menjadi Rp 739 miliar akibat kurs melemah serta kenaikan biaya kemas.

"Kalau rupiah 18.500 per dolar AS, kami tetap pertahankan penjualan Rp 1,5 triliun," ungkap dia kemarin, dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI secara virtual.

Sri Utama mengatakan, skenario itu karena memang situasi penyebaran virus korona sangat berdampak negatif terhadap bisnis farmasi khususnya PEHA. Saat ini, ada beberapa faktor yang membuat harga produk farmasi naik dan menekan kinerja perusahaan.

Baca Juga: Emiten farmasi dinilai meraup untung di tengah wabah covid-19, ini rekomendasi analis

Pertama, kenaikan kurs dolar terhadap rupiah dari Rp 14.000 menjadi Rp 16.500 per dolar AS, kedua kenaikan biaya impor karena perubahan sistem impor, ketiga kenaikan harga kemas 10%, keempat supplier tidak akan memberikan produk yang dipesan sampai ada pembayaran, terakhir supplier tidak mau menyetok barang.

"Akibatnya produk bahan baku yang awalnya kami kontrak Rp 122 miliar naik menjadi Rp 155 miliar," ungkap dia. Semua faktor itu yang membuat adanya kenaikan harga produk farmasi hingga 44%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×