kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Direktur Indosterling Aset Manajemen: Berinvestasi layaknya lari maraton


Sabtu, 27 April 2019 / 12:00 WIB

Direktur Indosterling Aset Manajemen: Berinvestasi layaknya lari maraton

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tidak banyak investor yang mulai berinvestasi di pasar modal sejak dududk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Di antara sedikit investor itu ada Fitzgerald Stevan Purba.

Direktur Indosterling Aset Manajemen ini memulai investasi dengan horizon jangka pendek. Tidak main-main, pilihan investasi pertamanya langsung saham. Stevan memilih saham karena bisa mendapat keuntungan yang hasilnya bisa langsung digunakan untuk kebutuhan konsumtif.


Kala itu, Stevan memang belum memiliki tujuan investasi jangka panjang. Sehingga setiap ada keuntungan, langsung ia realisasikan. Bahkan, saking pendeknya, kini ia merasa yang ia lakukan saat itu bukanlah investasi.

Pada 2011, Stevan memutuskan berkeluarga. Inilah yang mengubah pola investasinya. Sebab saat berkeluarga, ia sudah mulai membutuhkan dana untuk memenuhi keperluan diri dan keluarga di masa depan.

"Ketika berumah tangga, kebutuhan tidak hanya untuk hari ini, melainkan harus menyiapkan dana pendidikan anak dan pensiun," kata ayah seorang putra berusia enam tahun ini. Kini investasi yang dijalankan Stevan lebih untuk jangka panjang.

Seiring berjalannya waktu, Stevan merasa kian mengerti arti investasi. "Investasi bagaikan lari maraton, bukan hanya sekadar lari jarak pendek, sprint, yang hari ini dapat untung lalu selesai," kata lulusan Universitas Indonesia ini.

Sebar portofolio

Pria yang mulai bekerja di bidang keuangan tahun 2004 ini juga tidak menempatkan seluruh aset di satu instrumen investasi. Kini ia memilih membagi dana investasinya di beberapa instrumen.

Menurut dia, menanamkan modal terlalu agresif tidak memberi hasil maksimal. "Jika hanya berinvestasi di saham tanpa diversifikasi portofolio maka risikonya sangat tinggi," ujar dia.

Stevan bertutur, pengalaman bekerja di pasar modal juga membuatnya semakin menyadari keuntungan tidak bisa datang hanya dari satu instrumen. "Jangan sampai investor terlalu agresif hingga tidak memperhitungkan persentase kerugian dan tidak melindunginya dengan instrumen lain," kata dia.

Saat ini, Stevan memiliki reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, dan saham. Rata-rata investasinya jangka panjang. Salah satunya untuk kebutuhan pendidikan anak.

Stevan mengalokasikan dana paling besar pada reksadana pendapatan tetap. Menurut dia, akumulasi return pada reksadana pendapatan tetap lebih stabil dibanding reksadana saham.

"Keuntungan reksadana pendapatan tetap bisa didapat dari kupon obligasi, jadi lebih stabil," kata dia.

Stevan merasa cocok dengan pola investasi semacam ini. Dia menilai dirinya termasuk investor moderat. Sebab Stevan memilih investasi dengan kategori aman.

Stevan menyebut, dirinya tidak pernah mengalami kerugian yang besar di saham. Pasalnya, dia memiliki rencana matang pada setiap portofolio investasi: baik dalam posisi rugi atau untung. Dalam posisi rugi, misalnya, lelaki yang hobi berolahraga ini berusaha disiplin membatasi kerugian.

"Yang bahaya itu ketika berinvestasi di pasar modal, tapi tak ada rencana dan bayangan apa yang mau dituju. Ketika saham naik, harus ada bayangan paling tidak target setahun atau menengah di harga berapa," kata Stevan.

Dia juga memiliki prinsip ketika berinvestasi harus mengenali risiko dan kemampuan berinvestasi. Jadi, jangan sampai kerugian saat berinvestasi melebihi kemampuan ekonomi.

Bagi Stevan, pengetahuan portofolio investasi sangat lah penting. "Banyak yang beli saham tapi tidak mengetahui rata-rata return pasar modal secara historis itu 5%–10% tapi mengharapkan lebih," ujarnya.


Reporter: Danielisa Putriadita
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan


Close [X]
×