Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
Secara keseluruhan, pajak ekspor, disiplin produksi, dan potensi pengetatan DMO akan mendefinisikan kembali lanskap batubara Indonesia tahun 2026 dan kekuatan penetapan harganya di pasar di mana India dan Asia Tenggara mencakup sekitar 35% dari permintaan.
“Kami memperkirakan harga batubara akan stabil atau secara bertahap pulih menuju kisaran US$ 120/ton – US$ 125/ton pada tahun 2026, didukung oleh pengetatan pasokan dan permintaan impor yang kuat secara struktural dari India dan Asia Tenggara,” ucap Rizal dalam risetnya pada 12 Desember 2025.
Analis Philip Sekuritas Indonesia, Helen mengatakan beberapa faktor kunci yang mempengaruhi kinerja emiten batubara antara lain paparan penjualan batubara yang signifikan terhadap pasar domestik dan rasio pembayaran dividen yang tinggi.
Baca Juga: Kinerja Golden Energy (GEMS) Terdampak Anjloknya Ekspor Batubara, Ini Kata Analis
Adapun risiko potensial meliputi fluktuasi harga batubara dan kebijakan iklim yang terus berkembang.
Inav merekomendasikan Buy saham PT Indika Energi Tbk (INDY) dengan target harga Rp 3.300 per saham. Rizal merekomendasikan Buy saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga Rp 24.300 per saham. Sedangkan Helen merekomendasikan Hold saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 2.400 per saham.
Selanjutnya: Bulog Pastikan Harga GKP Tetap Rp 6.500 per Kg, Siapkan Pembayaran Digital ke Petani
Menarik Dibaca: Fres & Natural Kolaborasi dengan Vilo Gelato, Tawarkan Wangi Baru untuk Anak Muda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













