kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.951   -91,00   -0,50%
  • IDX 6.355   35,24   0,56%
  • KOMPAS100 836   4,02   0,48%
  • LQ45 634   -0,75   -0,12%
  • ISSI 220   2,50   1,15%
  • IDX30 356   -0,88   -0,25%
  • IDXHIDIV20 435   -3,64   -0,83%
  • IDX80 95   0,31   0,33%
  • IDXV30 120   -0,65   -0,54%
  • IDXQ30 114   -0,36   -0,32%

Didukung Fundamental Kuat, Prospek Dolar Masih Terjaga


Rabu, 05 Agustus 2026 / 14:09 WIB
Didukung Fundamental Kuat, Prospek Dolar Masih Terjaga
ILUSTRASI. walau imbal hasil US Treasury dan indeks dolar AS (DXY) sama-sama turun, namun prospek dolar AS masih menarik sebagai safe haven (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksi tetap menjadi valuta asing yang mempunyai prospek terjaga meski imbal hasil US Treasury 10 tahun saat ini menurun.

Mengutip Trading Economics Rabu (5/8/2026), imbal hasil US Treasury 10 tahun di level 4,60%, turun 0,08% dalam sepekan. Sementara indeks dolar AS (DXY) tercatat di level 99,83.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan mengatakan, penurunan imbal hasil US Treasury 10 tahun memang sedikit mengurangi daya tarik dolar AS dalam jangka pendek karena selisih imbal hasil dengan negara lain mulai menyempit.

Selain itu, optimisme mengenai potensi kesepakatan AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz turut menekan dolar karena berpotensi menurunkan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi.

Baca Juga: Laba Bersih Abadi Lestari (RLCO) Naik 13,39% Jadi Rp 20,36 Miliar per Semester I 2026

“Namun menurut saya, pelemahan tersebut masih relatif terbatas. Dolar masih didukung oleh fundamental yang kuat, terutama karena The Fed masih mempertahankan sikap hawkish,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Rabu (5/8/2026). 

Brahmantya menyebut, sejumlah pejabat The Fed masih mendukung suku bunga tetap tinggi untuk memastikan inflasi kembali ke target, sementara data pasar tenaga kerja AS juga masih cukup solid. Dengan kata lain, koreksi dolar saat ini lebih merupakan penyesuaian jangka pendek dibanding perubahan tren utama. 

Brahmantya menjelaskan, sentimen yang mempengaruhi dolar ke depan. Antara lain, arah kebijakan The Fed, terutama terkait peluang mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga jika inflasi kembali meningkat. Pergerakan imbal hasil US Treasury, yang masih menjadi indikator utama daya tarik aset berbasis dolar.

Kemudian, perkembangan negosiasi AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, karena akan memengaruhi harga minyak dan ekspektasi inflasi. Data ekonomi AS, terutama Consumer Price Index (CPI) dan Nonfarm Payrolls (NFP) juga turut mempengaruhi. Serta sentimen risk-on dan risk-off di pasar global.

“Apabila proses perdamaian AS-Iran berjalan lancar dan harga minyak terus menurun, tekanan inflasi bisa berkurang sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed ikut melemah. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali kuat, DXY masih memiliki ruang untuk kembali menguat,” jelas Brahmantya. 

Brahmantya mengatakan, dolar AS masih menjadi pilihan safe haven utama karena didukung oleh pasar obligasi terbesar di dunia, likuiditas yang tinggi, serta statusnya sebagai petrodollar.

Baca Juga: Laba Bersih Abadi Lestari (RLCO) Naik 13,39% Jadi Rp 20,36 Miliar per Semester I 2026

Selama The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi dan ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda, dolar masih memiliki daya tarik yang kuat. Namun jika investor ingin melakukan diversifikasi, Brahmantya mulai lebih mencermati Yen Jepang (JPY). 

Ia bilang, penguatan yen belakangan ini didukung oleh intervensi terkoordinasi antara pemerintah Jepang dan Amerika Serikat. Jepang diperkirakan menggelontorkan sekitar US$34 miliar untuk menopang yen, dan pemerintah juga menegaskan siap melakukan intervensi kembali apabila diperlukan.

“Meski demikian, saya melihat penguatan yen saat ini masih lebih banyak ditopang oleh intervensi dibanding perubahan fundamental,” terang Brahmantya. 

Brahmantya mengatakan bahwa perhatian pasar kini kembali tertuju pada kondisi fiskal Jepang dan arah kebijakan Bank of Japan. Selama selisih suku bunga Jepang dan AS masih lebar, carry trade tetap menarik sehingga ruang penguatan yen masih terbatas. 

“Intervensi dapat mengurangi volatilitas dan membeli waktu, tetapi agar tren penguatan yen berlanjut dibutuhkan normalisasi kebijakan moneter yang lebih agresif dari Bank of Japan,” sebut Brahmantya. 

Brahmantya memperkirakan, dalam jangka pendek, DXY masih berpotensi mengalami tekanan apabila proses perdamaian AS-Iran terus berlanjut, Selat Hormuz kembali dibuka, dan harga minyak terus menurun sehingga kekhawatiran inflasi mereda.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,69% ke 6.363 Sesi I Rabu (5/8), Top Gainers: Saham KLBF, AMRT, ANTM

Namun Ia belum melihat ruang pelemahan yang terlalu dalam. Selama data ekonomi AS masih relatif kuat, pasar tenaga kerja tetap solid, dan The Fed mempertahankan sikap hawkish, dolar masih memiliki peluang untuk kembali menguji area 102–103 hingga akhir tahun.

Turunnya imbal hasil US Treasury memang menekan dolar dalam jangka pendek, tetapi belum mengubah fundamentalnya. Selama The Fed masih mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, dolar AS tetap menjadi safe haven utama.

Di sisi lain, yen mulai menarik karena adanya intervensi pemerintah Jepang, tetapi tanpa perubahan fundamental seperti normalisasi kebijakan Bank of Japan, penguatan yen kemungkinan masih akan terbatas. 

“Saya memperkirakan indeks dolar (DXY) bergerak di kisaran 101 – 103 hingga akhir tahun,” pungkas Brahmantya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×