kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45845,50   -13,12   -1.53%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Di Tengah Kenaikan Suku Bunga, Kupon Obligasi Korporasi Diramal Bakal Makin Menarik


Minggu, 05 Februari 2023 / 05:50 WIB
Di Tengah Kenaikan Suku Bunga, Kupon Obligasi Korporasi Diramal Bakal Makin Menarik


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kupon obligasi korporasi kian menarik seiring kenaikan suku bunga. Prospek kenaikan kupon obligasi korporasi masih akan berlanjut karena bank sentral dunia masih berpotensi mengerek suku bunga lebih tinggi lagi.

Ekonom Pefindo Suhindarto menjelaskan, seiring dengan tren suku bunga yang masih naik, kupon dari surat utang yang diterbitkan pada bulan Januari 2023 ini juga mengalami peningkatan.

Secara rata-rata selama Januari 2023, kupon dari surat utang yang diterbitkan adalah sebesar 9,51%. Tingkat kupon tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan Januari 2022 lalu, yang berada di tingkat 8,41%. 

Perinciannya, rata-rata dari tingkat kupon untuk surat utang yang diterbitkan selama Januari 2023 dengan tenor 1 tahun berada pada tingkat 7,92%, tenor 2 tahun rata-rata sebesar 8,00%, kemudian untuk tenor 3 tahun memiliki kupon rata-rata sebesar 9,98%, dan 5 tahun berada di tingkat 11,33%. 

Baca Juga: Pefindo Prediksi Penerbitan Obligasi Korporasi Bisa Mencapai Rp 158 Triliun Tahun Ini

Jika dibandingkan antara surat utang pemerintah dan surat utang korporasi dengan tenor 5 tahun yang telah terbit pada bulan Januari ini, imbal hasil (yield) dari surat utang korporasi relatif lebih tinggi dan menarik.

Selama Januari 2023, rata-rata yield surat utang pemerintah dengan tenor 1 tahun berada di 5,73%, tenor 2 tahun adalah 5,94%, dan untuk tenor 5 tahun adalah 6,44%. 

"Sehingga return yang ditawarkan di surat utang korporasi lebih menarik dibandingkan dengan surat utang pemerintah," ucap Suhindarto kepada Kontan.co.id, Selasa (31/1).

Saat ini suku bunga Bank Indonesia di posisi 5,75%. Sedangkan The Fed di posisi 4,25%-4,5%. Selanjutnya, tingkat suku bunga bakal ditentukan hasil rapat The Fed pada 1 Februari 2023.

Pefindo memproyeksikan tren dari kenaikan kupon obligasi korporasi masih akan berlanjut. Hal ini didorong oleh kebijakan suku bunga Bank Sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Di satu sisi, lanjut Suhindarto, hal ini akan menarik bagi investor karena pasar surat utang korporasi mampu memberikan return yang lebih baik, namun di sisi lain hal ini dapat menjadi risiko bagi perusahaan penerbit (emiten) yang akan menerbitkan surat utang karena mereka harus menghadapi biaya dana atau cost of fund yang relatif tinggi.

Untuk diketahui, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat bahwa sepanjang Januari tahun 2023, jumlah penerbitan surat utang telah mencapai Rp 4,24 triliun. Dari situ, penerbitan yang diperingkat Pefindo dan peringkatnya dipublikasikan adalah sebesar Rp 2,8 triliun.

Sementara dari sisi perusahaan yang menerbitkan surat utang korporasi, Pefindo telah melakukan pemeringkatan terhadap 3 perusahaan selama Januari 2023. Ketiga perusahaan tersebut ialah PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Medco Power Indonesia (MPI), dan PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP).

Baca Juga: Tahun Ini, Bank BJB (BJBR) Berencana Terbitkan Obligasi hingga Rp 2 Triliun

Research & Consulting Manager PT Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro memperkirakan bahwa penerbitan obligasi korporasi akan lebih ramai pada kuartal kedua dan ketiga 2023, seiring estimasi kenaikan suku bunga yang akan berakhir sehingga yield akan berangsur turun pula.

"Penurunan yield bisa mendorong penerbitan obligasi korporasi lebih tinggi lagi," katanya kepada Kontan.co.id, Senin (30/1).

Dari sisi kupon, kupon obligasi korporasi di awal tahun ini lebih tinggi sekitar 26 basis poin (bps) dari periode yang sama tahun 2022, jika melihat rata-rata dari tenor 1-10 tahun dengan rating AAA hingga BBB.

Apabila dibandingkan dengan yield SUN dengan tenor yang sama di tahun 2023 di posisi 30 Januari 2023 berbeda sekitar 72 bps lebih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×