kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Delapan Calon Emiten Masih Antre IPO, Saham Mana yang Menarik Dilirik?


Kamis, 12 Januari 2023 / 20:59 WIB
Delapan Calon Emiten Masih Antre IPO, Saham Mana yang Menarik Dilirik?
ILUSTRASI. Setelah delapan emiten baru resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini masih ada delapan calon emiten di daftar antrean.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hajatan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO) langsung meriah di awal tahun 2023. Setelah delapan emiten baru resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini masih ada delapan calon emiten di daftar antrean.

Terbaru, ada dua emiten yang mulai memasuki masa penawaran awal (bookbuilding). Mereka adalah PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) dan PT Hillcon Tbk (HILL).

PACK menawarkan sebanyak-banyaknya 308 juta saham baru dengan nilai nominal Rp 10 per saham, mewakili 20,03% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga penawaran Rp 110 per saham-Rp 162 per saham, dengan estimasi dana yang dihimpun sebesar Rp 49,89 miliar.

Bergerak di industri percetakan digital untuk kemasan fleksibel, PACK menjalankan usaha di bidang percetakan digital kemasan plastik untuk pengemasan makanan ringan, makanan basah, kopi/teh, bubuk, bumbu, makanan frozen, cairan, kosmetik, pakaian, masker, dan produk lainnya. 

Baca Juga: Berbalik ARB, Hati-hati! Saham Akbar Indo Makmur (AIMS) Bisa Lanjut Tersungkur

Selanjutnya, HILL menawarkan sebanyak-banyaknya 442,3 juta saham baru. Jumlah itu mewakili 15% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO, dengan nilai nominal Rp 100 untuk setiap saham. Harga penawaran dipatok pada rentang Rp 1.250 per saham-Rp 2.000 per saham.

Lewat aksi IPO, perusahaan yang bergerak di bidang usaha aktivitas perusahaan holding, konsultasi manajemen serta jasa pertambangan dan jasa konstruksi melalui perusahaan anak ini membidik dana sebanyak-banyaknya sebesar Rp 884,6 miliar.

Sekadar mengingatkan, sebelumnya Hillcon (HILL) telah masuk masa periode bookbuilding pada 15 Juni - 29 Juni 2022, dengan perkiraan tanggal pencatatan saham pada 20 Juli 2022. Namun, kala itu proses IPO HILL mengalami pembatalan (canceled).

Baca Juga: Per Desember 2022, Bank Sumut Catatkan Pertumbuhan Laba Positif

Selain kedua calon emiten tersebut, masih ada enam perusahaan lain dari beragam sektor industri dan bidang usaha. Meliputi perbankan, basic materials, industrials, teknologi, consumer, dan logistik. 

Keenam calon emiten itu adalah PT Jasa Berdikari Logistics Tbk (LAJU), PT Penta Valent Tbk (PEVE), PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ), PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Tbk (BSMT), PT Wijaya Cahaya Timber Tbk (FWCT), dan PT Aviana Sinar Abadi Tbk (IRSX).

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menilai, di tengah volatilitas pasar saham saat ini investor bisa mempertimbangkan saham dengan sektor bisnis yang tahan banting alias defensif. Fajar pun menjagokan saham di sektor konsumen.

Katalis bagi saham sektor konsumen, khususnya barang konsumsi primer adalah kenaikan upah minimum dan momentum tahun politik. Hal itu bisa menjadi katalis untuk menjaga daya beli atau tingkat konsumsi di tengah masyarakat.

Faktor lain yang bisa diperhatikan adalah penggunaan dana IPO yang sebagian besar dialokasikan untuk modal kerja atau belanja modal. "Saham yang menarik untuk dicermati adalah PEVE dan NAYZ," ujar Fajar kepada Kontan.co.id, Kamis (12/1).

Baca Juga: Resmi Jadi Emiten, BMBL Genjot Kanal dan Konten Belajar Digital

Beda cerita dengan Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang yang menjagokan saham BSMT. Secara sektoral, saham emiten perbankan masih punya prospek cemerlang. Apalagi, BSMT pun punya kinerja yang mentereng.

Secara rasio, BSMT mencatatkan kinerja yang positif dibandingkan peers-nya. Berdasarkan laporan keuangan kuartal ketiga 2022, Return on Assets (ROA) tercatat 1,65%, Return on Equity (ROE) 11,97% dan Net Profit Margin (NPM) 21,63%.

"Itu relatif lebih besar daripada peers. Sedangkan PBV di rentang 0.77x - 1.22x, relatif lebih rendah dibandingkan peers," terang Alrich.

Alrich juga menyoroti, pelaku pasar cenderung melirik aksi IPO di awal tahun. Ekspektasi pelaku pasar terdorong oleh psikologis terhadap peluang terjadinya January Effect.

Meski begitu, Fajar punya catatan agar pelaku pasar waspada terhadap euforia yang memudar pasca emiten menggelar IPO. Fajar mencontohkan PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE).

Baca Juga: Bersiap IPO, Aviana Incar Dana Segar Rp 100 Miliar

Selepas IPO, saham CBRE bergerak melesat hingga ke level batas atas (ARA) pada hari perdana dan kedua. Namun pada hari ketiga dan keempat berbalik ke batas bawah (ARB).

Kemudian, PT Hatten Bali Tbk (WINE) yang juga ARA di hari pertama dan kedua. Beruntungnya, pada hari ketiga perdagangan, saham WINE masih mampu menguat 24,79% ke harga Rp 292.

Pulihnya aktivitas masyarakat usai pencabutan PPKM dan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara menjadi katalis positif bagi emiten wine tersebut. "Investor sebaiknya wait and see terlebih dahulu, sambil mencermati fundamental emiten terkait," pungkas Fajar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×