Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas produksi nikel menjadi 250-260 juta ton pada tahun 2026, turun dari target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 sebanyak 379 juta ton. Namun, Prospek PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dinilai belum sepenuhnya surut.
Untuk diketahui, INCO mengaku hanya memperoleh sekitar 30% dari kuota produksi nikel yang diajukan dalam RKAB 2026. Persetujuan RKAB tersebut baru diterima dari Kementerian ESDM, namun INCO belum merinci berapa kuota yang diajukan dan berapa jumlah kuota yang disetujui.
Keterbatasan kuota ini dikhawatirkan menghambat pasokan bijih nikel untuk tiga proyek hilirisasi utama INCO, yakni Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Sulawesi Tenggara, IGP Sorowako di Sulawesi Selatan, dan IGP Morowali di Sulawesi Tengah.
Ketiga proyek ini membutuhkan pasokan nikel yang cukup besar agar produksi dan pengolahan tetap berjalan optimal.
Baca Juga: Saham United Tractors (UNTR) Anjlok Usai Izin Agincourt Dicabut, Ini Rekomendasinya
Terkait hal tersebut, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menyebut dampaknya akan berpotensi terasa ke arah operasional dan rencana hilirisasi, karena pasokan bijih nikel adalah input utama untuk menjaga kelancaran tiga proyek hilirisasi di atas.
Menurut Ekky, kalau kuota benar-benar ketat dan tidak ada ruang penyesuaian, maka konsekuensinya bisa muncul pada dua area. Yakni pertama, dari sisi ketersediaan ore (bijih nikel) untuk mendukung kebutuhan proyek dan operasi, dan kedua dari sisi timeline yang artinya progres proyek berisiko lebih lambat dari rencana.
“Namun, kedalaman dampaknya tetap sangat tergantung implementasi di lapangan. Apakah kuota tersebut benar-benar menghambat supply ore untuk kebutuhan proyek, atau masih ada opsi penyesuaian/penambahan kuota seiring kebutuhan industri dan progres pembangunan,” jelas Ekky kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).
Di sisi lain, pembatasan kuota sebenarnya punya dua sisi. Walaupun untuk INCO menurut Ekky akan berisiko dari sisi volume dan eksekusi, tetapi secara industri kebijakan pembatasan pasokan justru bisa membantu menahan oversupply dan membuat harga nikel lebih stabil atau berpeluang menguat ke depan.
Artinya, kalau pasokan lebih terkendali dan harga nikel membaik, emiten pengolah nikel termasuk INCO bisa ikut terbantu dari sisi sentimen dan potensi margin.
Di sisi lain, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey Eko Nugroho mencatat INCO memasuki fase baru monetisasi di luar nikel matte seiring rencana peningkatan signifikan penjualan bijih nikel.
INCO menegaskan kembali target produksi bijih nikel hingga 20 juta wmt tahun ini, jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi di sepanjang tahun 2025. Produksi tersebut akan berasal dari sekitar 10 juta wmt limonit dan 5 juta wmt saprolit dari Pomalaa, serta sekitar 5 juta wmt saprolit dari tambang Bahodopi.
“Lonjakan volume ini didorong oleh dimulainya aktivitas penambangan di Pomalaa dan diperkirakan akan meningkatkan kontribusi penjualan bijih nikel sebagai sumber pendapatan baru, dengan porsi sekitar 33% dari total pendapatan sepanjang tahun 2026,” jelas Andhika dalam riset 9 Januari 2026.
Tetapi Andhika mengambil pendekatan lebih konservatif dengan memproyeksikan produksi bijih nikel INCO sebesar 14,5 juta wmt tahun ini, terutama untuk mengantisipasi risiko terkait waktu persetujuan RKAB.
Lebih lanjut, Ekky menjelaskan untuk sepanjang tahun 2026, katalis positif pendorong kinerja INCO dinilai masih bertumpu pada progres hilirisasi dan pencapaian milestone proyek, mulai dari kemajuan konstruksi, proses commissioning, hingga kejelasan jadwal produksi komersial.
Kepastian bahwa proyek berjalan sesuai rencana (on track) diyakini akan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap prospek pertumbuhan jangka menengah INCO.
Selain itu, perbaikan harga nikel seiring potensi pengetatan pasokan industri berpeluang memperkuat sentimen sektor dan mendorong minat investor.
Namun demikian, sentimen negatif tetap perlu diwaspadai, antara lain risiko keterlambatan proyek, potensi pembengkakan belanja modal (capex), volatilitas harga komoditas, serta dinamika regulasi yang dapat berubah dengan cepat.
Di sisi keuangan, INCO membukukan pendapatan sebesar US$ 902 juta atau setara Rp 15,03 triliun hingga November 2025. Kinerja ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan nikel matte serta bijih nikel saprolit berkadar tinggi.
Produksi nikel matte sepanjang 2025 juga melebihi target, dengan realisasi 66.848 ton atau naik 3% secara tahunan (YoY). Penjualan nikel matte tercatat 67.351 ton, meningkat 2% YoY.
Analis Maybank Sekuritas Hasan Barakwan memprediksi prospek INCO pada tahun 2026 akan tetap solid seiring kenaikan panduan total produksi bijih nikel menjadi 20 juta ton.
Sementara itu, produksi nikel matte sepanjang tahun 2026 diperkirakan mencapai 67.000 ton, lebih rendah dari target penuh tahun 2025 yang dibidik mencapai 71.234 ton. Hal ini akibat jadwal peremajaan tungku yang membutuhkan waktu selama sekitar 4-5 bulan
“Meski demikian, penurunan produksi nikel matte tersebut diperkirakan dapat diimbangi oleh peningkatan volume produksi bijih nikel,” jelas Hasan dalam riset 8 Januari 2026.
Memasuki 2026, Ekky memproyeksi peluang pertumbuhan laba bersih INCO masih terbuka, namun sangat bergantung pada kombinasi volume produksi dan penjualan, harga jual rata-rata (ASP), serta disiplin biaya.
Perbaikan harga nikel dan stabilitas operasional berpotensi menjaga laba tetap positif. Sebaliknya, pembatasan kuota yang berpotensi mengganggu volume produksi maupun progres proyek dapat membuat pasar bersikap lebih berhati-hati karena risiko tertahannya pertumbuhan kinerja.
Atas dasar tersebut, Ekky memberikan rekomendasi kepada investor untuk Buy on Weakness sambil memantau dua indikator utama, yakni kepastian kuota produksi nikel INCO di RKAB seta update proyek hilirisasi. Target harga saham INCO dibidiknya ke level Rp 7.600 - Rp 8.000 dalam jangka menengah-panjang.
Sementara Andhika merekomendasikan buy saham INCO dengan target harga Rp 6.800 per saham. Ada pun Hasan memberikan rekomendasi buy saham INCO dengan target harga Rp 8.000 per saham.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Tertekan, Cermati Saham Rekomendasi Analis pada Kamis (22/1)
Selanjutnya: Korporasi Kena Gugatan dan Pencabutan Izin Usaha
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













