Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah di pasar spot masih betah berada di area Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Sekedar menginagtkan, rupiah spot berada di level Rp 16.588 per dolar AS pada Rabu (26/3).
Bahkan, rupiah sempat melejit ke level Rp 16.641 per dolar AS pada perdagangan Selasa (25/3), sebelum akhirnya ditutup di Rp 16.612 per dolar AS.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza C. Suryanata mengatakan publik dan pelaku pasar sudah mulai didasarkan bahwa sejatinya Indonesia mungkin punya masalah fundamental yang cukup serius.
Pasalnya, pelemahan rupiah disebut-sebut karena penguatan dolar AS yang semakin tak terbendung. Liza mencermati ada beberapa sentimen yang bisa menahan laju indeks dolar AS.
Salah satu sentimennya, rilis data PCE Price Index AS pada 28 Maret 2025 yang diproyeksikan menjinak. Liza bilang indeks tersebut dipakai sebagai patokan inflasi di Negeri Paman Sam itu.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,15% ke Rp 16.588 Per Dolar AS pada Rabu (26/3)
"Maka dari itu arah suku bunga The Fed bisa sedikit dovish, sehingga indeks dolar AS tidak naik. Namun ini hanya satu prediksi, belum terkait dengan konflik global," kata Liza, Rabu (26/3).
Liza menyarankan untuk investor maupun trader, yang bisa dilakukan saat ini adalah mitigasi dalam trading plan yang harus dilaksanakan dengan disiplin.
Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan bilang pelemahan rupiah sudah diprediksi sejalan dengan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI) di awal tahun ini.
"Serta peningkatan stimulus likuiditas makroprudensial, namun seharusnya pelemahan ini bersifat sementara," jelasnya kepada Kontan, Rabu (26/3).
Valdy bilang saat ini pelaku pasar dan masyarakat tengah berharap terjadinya perbaikan kondisi ekonomi melalui peningkatan konsumsi di periode libur panjang Idul Fitri.
Namun dia masih belum bisa banyak berkomentar soal saham-saham pilihan di tengah pelemahan rupiah, yang pati emiten yang berorientasi ekspor seperti pertambangan akan diuntungkan.
"Akan tetapi saat ini demand eksternal juga masih kurang bagus, sehingga dampaknya akan relatif tak terasa," kata Valdy.
Head of Equity Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menambahkan masih ada kemungkinan bisa tertekan dan emiten yang diuntungkan adalah yang berbasis ekspor.
"Biasa yang diuntungkan adalah eksportir seperti kelapa sawit dan batubara, yang secara size," ucap dia.
Selanjutnya: Outflow Asing Hampir Mendekati Level Pandemi, Per Akhir Maret Capai Rp 33 Triliun
Menarik Dibaca: Langkah Cerdas Mengelola Uang THR Agar Keuangan Tetap Stabil Setelah Lebaran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News