Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) alias rights issue di awal tahun masih semarak. Bahkan, dana segar yang diincar para emiten tergolong jumbo.
Emiten konglomerasi juga turut menggelar aksi korporasi ini. Yakni, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dari Grup Bakrie dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro.
Berdasarkan strukturnya, BNBR akan menerbitkan maksimal 90 miliar saham baru seri E yang berasal dari saham portepel dengan nilai nominal sebesar Rp 12 per saham.
Baca Juga: Komisaris Petrosea (PTRO) Erwin Ciputra Tambah 400.000 Saham, Ini Tujuannya
Dana dari hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk pembayaran kewajiban atau anak BNBR kepada kreditur serta untuk modal kerja di BNBR dan anak perusahaan.
Sementara, BUVA berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan maksimal 50 miliar saham baru. Ini setara dengan 203,11% dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh.
Untuk bisa mengeksekusi aksi korporasi itu, BNBR dan BUVA akan meminta restu dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada akhir Februari 2026.
Selain dua emiten itu, ada PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) dan PT Multitrend Indo Tbk (BABY). Di mana, YOII akan menerbitkan sekitar 685,93 miliar saham baru dengan minimal Rp 100.
BABY akan menerbitkan maksimal 238,57 juta saham dengan pelaksanaan Rp 590. Adapun pelaksanaan rights issue ini juga merupakan strategis pemegang saham BABY, yaitu Blooming Years Pte Ltd untuk melakukan inbreng.
Blooming Years memperoleh sekitar 255,07 HMETD. Semua HMETD tersebut akan dilaksanakan Blooming Years melalui rencana inbreng atau setoran modal dalam bentuk selain uang tunai.
Namun dari keempat emiten itu, ada satu emiten yang tinggal mengeksekusi rencana right issue. Yakni, PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) dengan menerbitkan maksimal 12,39 miliar saham baru.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.768 Per Dolar AS Hari Ini (27/1), Asia Bervariasi
Dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 580 per saham, IRSX berpotensi meraup dana segar Rp 3,7 triliun. Adapun dalam rights issue kali ini, IRSX menetapkan rasio 1:2.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai aksi rights issue pada sejumlah emiten memiliki risiko dilusi yang cukup signifikan karena nilai instrumen konversi yang besar terhadap ekuitas.
“Kalau melihat masing-masing emiten, potensi dilusinya memang cukup tinggi karena nilai instrumen konversinya besar terhadap ekuitas,” katanya kepada Kontan, Senin (26/1).
Namun dari beberapa emiten yang akan melakukan rights issue, Nafan menilai aksi korporasi BUVA berpotensi mendorong likuiditas saham, meski kondisi teknikal sahamnya saat ini sudah berada di level jenuh beli.
“Ketika aksi korporasi jadi, saham yang sebelumnya tidak likuid bisa tiba-tiba menjadi likuid, tapi kalau sudah extremely overbought perlu diwaspadai potensi profit taking,” jelas Nafan.
Equity Research Samuel Sekuritas Ahnaf Yassar menilai rights issue BUVA digunakan secara produktif untuk akuisisi dan pengembangan aset bernilai tinggi di Bali dan Labuan Bajo.
“Rights issue BUVA kami nilai strategis karena digunakan untuk akuisisi lahan premium dan ekspansi hotel, yang berpotensi memperkuat pertumbuhan laba serta menurunkan tingkat leverage ke depan,” tulisnya dalam riset tertanggal 26 Januari 2026.
Samuel Sekuritas juga mencatat rights issue itu dapat free float dan likuiditas saham BUVA secara signifikan. Ini membuka peluang masuknya BUVA ke dalam indeks MSCI Small Cap.
Baca Juga: Tak Hanya ORI dan SR, Investor Ritel Kini Lirik SBN Wholesale
Selanjutnya: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Rabu 28 Januari 2026, Energi Emosional
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Rabu 28 Januari 2026, Energi Emosional
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













