kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Bursa Asia bervariasi jelang rilis PMI China


Jumat, 01 September 2017 / 09:50 WIB


Sumber: CNBC,Bloomberg | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - Bursa Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Jumat (1/9) pagi, menjelang rilis data aktivitas manufaktur China. Investor juga mencermati pelemahan dollar AS.

Mengutip Bloomberg, pukul 09.30 WIB, indeks Nikkei 225 naik 0,19%. Sementara, indeks Kospi turun 0,17% setelah sempat dibuka naik tipis 0,05%.

Indeks S&P/ASX 200 menguat 0,12%, meski sempat tergelincir 0,03% tadi pagi. Sektor energi dan perawatan kesehatan naik berbanding penurunan di sektor keuangan. Sementara, pasar saham Singapura, Malaysia, Filipina dan Indonesia ditutup karena liburan.

Investor sedang menunggu rilis data Caixin manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI), setelah pemerintah China melaporkan aktivitas manufaktur bulan Agustus meningkat.

Sementara, kabar utama global datang dari Negeri Paman Sam. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan, pihaknya telah menyiapkan rencana pajak terperinci. Rencana tersebut telah diperkenalkan ke Kongres dan akan diumumkan ke publik pada akhir September.

Menurut Ekonom ANZ Daniel Gradwell, mengingat pasar sepertinya sudah tidak memperhitungkan lagi terkait pemerintahan Trump, setelah adanya proposal reformasi, kemajuan pada undang-undang pajak, maka kemungkinan akan dilihat secara positif.

"Namun, pasar tampaknya mengambil pandangan skeptis untuk saat ini," katanya seperti dilansir CNBC.

Sementara, dollar AS lanjut tertekan di pasar Asia. Sesi semalam, The greenback melemah karena belanja konsumen bulan Juli dilaporkan naik 0,3%, di bawah perkiraan 0,4%. Apalagi, Menteru Keuangan AS menyebut, dollar yang melandai lebih baik bagi Amerika di bidang perdagangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×