kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) proyeksikan pendapatan tumbuh 10%-15% tahun ini


Kamis, 27 Juni 2019 / 15:31 WIB
Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) proyeksikan pendapatan tumbuh 10%-15% tahun ini

Berita Terkait

Reporter: Aloysius Brama | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) memproyeksikan pendapatannya bisa tumbuh 10%-15% dari tahun lalu. 

Direktur PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk Dhany Chayadi menyebut hal itu tak lepas dari penambahan kapasitas mesin produksi yang sudah dilakukan oleh perusahaan pada tahun lalu. “Karena sudah selesai sehingga dampak optimalisasinya bisa kita rasakan pada tahun ini,” ujar Dhany, Kamis (27/6).


BTEK baru saja menambah mesin produksi untuk pabrik mereka di Balaraja, Jawa Barat. Mesin baru itu memiliki kapasitas produksi 20.000 ton-30.000 ton. BTEK harus merogoh kocek hingga US$ 15 juta-US$ 20 juta untuk merealisasikan rencana tersebut.

Hingga kini, penambahan kapasitas itu masih terus berjalan. Duit yang sudah dirogoh oleh BTEK untuk penambahan kapasitas itu sekitar US$ 10 juta. 

“Sisanya sekitar US$ 5 juta hingga US$ 10 juta tahun ini. Itu pun tergantung dari kebutuhan utilisasi kami,” jelas Dhany. 

Menurut Dhany dana itu sepenuhnya bersumber dari internal perusahaan, termasuk dari dana yang diraih melalui aksi private placement BTEK.

Dengan penambahan kapasitas itu, BTEK memproyeksikan produk kokoa mereka bisa mencapai 40.000 ton pada akhir tahun 2019 nanti. Jumlah itu hampir dua kali lipat dengan realisasi di tahun lalu yang hanya mencapai 20.000 ton. 

Dhany menambahkan minimnya produksi tahun lalu juga disebabkan oleh terhentinya beberapa lini mesin pabrik akibat dari penambahan kapasitas mesin itu.

Penambahan kapasitas mesin itu menurut Dhany membuat BTEK semakin leluasa untuk melakukan diversifikasi produk. Tahun ini BTEK akan mulai memproduksi bubuk coklat teralkalisasi dan deodorized lemak kakao.

Rencana diversifikasi produk itu tak lepas dari niat perusahaan untuk semakin determinan dalam hal penetrasi ke pasar domestik. “Meskipun tingkat konsumsi coklat domestik hanya 0,2 kg-0,5 kg per kapita, tapi pangsa domestik di Indonesia itu besar dan tidak bisa diabaikan,” ujar Dhany.

Asal tahu saja, penjualan BTEK hingga akhir tahun lalu masih disumbang oleh ekspor. Tercatat, BTEK membukukan penjualan ekspor hingga Rp 873,29 miliar. Jumlah itu sekitar 98% dari total penjualan BTEK yang sebesar Rp 890,04 miliar. 

“Sekitar 75% ekspor kami ke Amerika, sedangkan sisanya ke Eropa,” tandas Dhany.

Untuk produk ekspor, 56% dari total penjualan ekspor BTEK adalah produk padatan atau bubuk kakao. Sedangkan sisanya, yakni 44% adalah lemak kakao. Tahun ini, BTEK berencana untuk mulai membuka pasar di beberapa negara Asia seperti Jepang, China dan India.




TERBARU

Close [X]
×