Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Noverius Laoli
“Kami perkirakan SMRA dapat mencapai marketing sales Rp 5 triliun sesuai target dari manajemen, kami juga proyeksikan pendapatan dapat mencapai Rp 6 triliun dengan laba Rp 490 miliar pada tahun 2022 ini,” papar Pandu, Kamis (3/3).
Adapun sentimen lain yang perlu diperhatikan SMRA untuk tahun ini yaitu kebijakan tapering yang mulai dijalankan oleh BI dan potensi kenaikan suku bunga yang dapat menghambat pertumbuhan penjualan. Apalagi, selama ini sektor properti dianggap paling sensitif terhadap perubahan suku bunga.
“Untuk kuartal pertama tahun ini seharusnya masih aman, namun memasuki kuartal kedua perlu lebih memperhatikan apakah ada perlambatan terhadap marketing sales atau tidak,” tambah Pandu.
Baca Juga: Saham Emiten Properti Menghijau Pekan Lalu, Analis Rekomendasikan Saham-Saham Ini
Sekarang ini, SMRA diperdagangkan pada PBV 1,3 kali, angka ini lebih rendah dibanding PBV tiga taun terakhir sekitar 1.8 kali. Pandu menuturkan, saham SMRA masih relatif murah dengan target wajarnya sekitar Rp 950.
“Jika dilihat dari discount to RNAV saat ini juga masih di bawah rata-rata 5 tahun terakhir di sekitar 70%, sekarang masih diperdagangkan pada tingkat discount to RNAV sekitar 80%,” jelasnya.
Pandu menargetkan SMRA dapat mencapai harga Rp 1.035 untuk 12 bulan ke depan. Ia bilang, ada potensial upside hingga 50% sehingga posisi saat ini cukup menarik untuk dikoleksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)