kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.902   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.302   195,28   2,75%
  • KOMPAS100 1.013   35,14   3,59%
  • LQ45 746   24,04   3,33%
  • ISSI 258   9,10   3,66%
  • IDX30 407   13,79   3,51%
  • IDXHIDIV20 510   21,50   4,40%
  • IDX80 114   3,88   3,53%
  • IDXV30 138   3,76   2,79%
  • IDXQ30 133   5,61   4,40%

BI Tahan Suku Bunga, Begini Prospek Rupiah


Rabu, 25 Maret 2026 / 16:19 WIB
BI Tahan Suku Bunga, Begini Prospek Rupiah
ILUSTRASI. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS (TRIBUNNEWS/Jeprima)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16–17 Maret 2026. 

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufiqurahman mengatakan, keputusan BI menahan suku bunga berada dalam posisi defensif dan relatif tepat untuk menjaga stabilitas, namun dampaknya terhadap rupiah cenderung terbatas. Di tengah sikap higher for longer The Fed dan penguatan dolar global, selisih suku bunga (interest rate differential) tidak cukup lebar untuk menarik arus modal masuk secara signifikan. 

“Akibatnya, rupiah masih berada dalam tekanan dan cenderung bergerak volatil dengan bias melemah, meskipun intervensi BI mampu menahan depresiasi yang lebih dalam,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (25/3/2026). 

Rizal melihat tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut karena kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan dolar dan tingginya yield US Treasury mendorong capital outflow dari emerging markets. Sementara dari sisi domestik, pertumbuhan yang mulai kehilangan momentum, konsumsi yang tidak merata, serta risiko fiskal (defisit yang mendekati batas dan kebutuhan pembiayaan tinggi) menambah persepsi risiko terhadap aset rupiah. 

Baca Juga: Rupiah Belum Lepas Tekanan, Ditutup Melemah ke Rp 16.911 Per Dolar AS di Rabu (25/3)

“Dalam kondisi ini, rupiah cenderung berada dalam tren depreciation bias, kecuali ada katalis kuat seperti lonjakan harga komoditas atau arus masuk modal yang besar,” terang Rizal. 

Ekonom Universitas Indonesia, Teuku Riefky mengatakan, pecahnya konflik di Timur Tengah, ditambah dengan serangkaian revisi prospek lembaga pemeringkat, telah mengungkap kerapuhan domestik dan memengaruhi pergerakan modal selama beberapa minggu terakhir. Sejak dimulainya konflik pada 28 Februari, Indonesia telah mengalami arus keluar sebesar US$ 0,77 miliar di pasar obligasi hingga 12 Maret. Namun, pasar ekuitas berkinerja lebih baik, mencatat arus masuk bersih sebesar US$ 0,03 miliar. Hal ini sebagian besar didorong oleh investor asing yang beralih ke saham sektor energi di tengah penurunan IHSG yang lebih luas setelah pecahnya perang AS-Iran. 

Secara total, hingga 12 Maret, Indonesia mencatat total arus keluar modal sebesar US$ 0,63 miliar dalam 30 hari terakhir (dibandingkan dengan 13 Februari), dan arus keluar sebesar US$ 0,75 miliar sejak dimulainya perang. 

Ketika Indonesia mengalami arus keluar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah 1 tahun mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 83 basis poin dari 4,82% pada 18 Februari menjadi 5,65% pada 13 Maret. Namun, masalahnya tampaknya lebih luas daripada tekanan likuiditas jangka pendek. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun juga meningkat secara signifikan sebesar 36 basis poin dari 6,39% pada 18 Februari menjadi 6,75% pada 13 Maret. Ini menunjukkan pergeseran paralel bearish pada kurva imbal hasil, yang mencerminkan kenaikan premi risiko yang luas di semua tenor. 

Peningkatan bersama imbal hasil kedua tenor menunjukkan bahwa pasar memperhitungkan ketidakpastian yang meningkat seputar prospek ekonomi jangka pendek Indonesia, yang didorong oleh arus keluar modal, tekanan mata uang, dan potensi memburuknya kondisi fiskal yang berasal dari guncangan harga minyak. 

“Dinamika di pasar obligasi dan saham ini pada gilirannya telah membebani rupiah,” ucap Riefky. 

Riefky mencatat, selain Indonesia, perang AS-Iran juga telah memberikan tekanan pada banyak mata uang pasar negara berkembang. Meskipun demikian, tidak semua mata uang pasar negara berkembang melemah. Argentina, Malaysia, Brasil, dan Tiongkok mencatat apresiasi terhadap dolar AS secara year to date (ytd). Sementara itu, Indonesia bergabung dengan Filipina, Rusia, Afrika Selatan, Turki, India, dan Thailand dalam mencatat depresiasi.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.911 Per Dolar AS Hari Ini (25/3), Asia Terkoreksi

Meskipun demikian, depresiasi Indonesia tetap relatif moderat dibandingkan dengan beberapa negara sejenisnya, yang mencerminkan upaya aktif Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah. Pada Februari 2026, aset cadangan devisa resmi menurun sebesar US$ 2,7 miliar menjadi US$ 151,9 miliar, turun dari US$ 154,6 miliar pada bulan sebelumnya, menandai penurunan bulanan terbesar sejak April 2025. 

“Penurunan ini mencerminkan upaya stabilisasi rupiah yang berkelanjutan dan kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah,” jelas Riefky. 

Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan dalam skenario gangguan jangka pendek perang AS – Israel dengan Iran (probabilitas 45%), rupiah melemah sebentar ke Rp 16.900 – Rp 16.920 per dolar AS sebelum stabil di level pra-guncangan dalam waktu seminggu. 

“Dalam skenario perang berkepanjangan (probabilitas 20%), rupiah menghadapi depresiasi berkelanjutan menuju Rp 17.500 per dolar AS karena biaya impor minyak secara struktural memperlebar defisit transaksi berjalan, berpotensi memaksa BI untuk menghentikan atau membalikkan siklus pelonggaran kebijakan moneternya,” jelas Fithra.   

Rizal memproyeksikan rupiah pada kuartal II-2026 bergerak dalam rentang Rp 16.800 – Rp 17.300 per dolar AS, dengan kecenderungan masih tertekan di kisaran atas jika tekanan global berlanjut efek perang Iran vs Israel-US. 

Rizal menilai, risiko pelemahan lebih lanjut tetap terbuka, terutama jika harga minyak naik (menekan neraca perdagangan energi) dan arus modal asing belum kembali. Namun, stabilisasi masih mungkin terjadi apabila BI memperkuat bauran kebijakan termasuk intervensi valas, pengelolaan likuiditas, dan koordinasi fiskal sehingga volatilitas tetap terkendali meskipun tren penguatan rupiah masih terbatas.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.928 Per Dolar AS Hari Ini (25/3), Terburuk di Asia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×