Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Bitcoin kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu (21/10/2026). Namun, pemulihan harga kedua aset tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian pasar yang dipengaruhi sentimen domestik maupun global.
IHSG ditutup naik 0,94% atau bertambah 49,47 poin ke level 5.328,36. Di pasar kripto, harga Bitcoin tercatat sebesar US$ 83.537 berdasarkan data CoinMarketCap pukul 16.16 WIB. Nilai tersebut meningkat 2,73% dalam 24 jam terakhir dan menguat 0,21% dalam sepekan.
CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis mengatakan, investor perlu memahami karakteristik dan risiko setiap instrumen investasi, terutama ketika pasar bergerak fluktuatif.
“Volatilitas tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga di pasar saham. Pergerakan harga dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi makroekonomi dan arus modal hingga sentimen serta kepercayaan investor. Karena itu, penting untuk melihat setiap kelas aset secara objektif, memahami risikonya, dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga dalam jangka pendek,” kata Yudhono dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Baca Juga: IHSG Menguat 0,94% ke 5.328 pada Rabu (21/10/2026), AKRA, ICBP, BBTN Top Gainers LQ45
Di pasar saham domestik, salah satu sentimen yang menjadi perhatian investor adalah evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Evaluasi tersebut turut menyoroti transparansi kepemilikan saham dan penegakan aturan di pasar modal Indonesia.
Sebelumnya, IHSG mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (16/10/2026) dan Senin (19/10/2026). Penguatan dalam dua sesi terakhir menunjukkan adanya pemulihan di pasar saham domestik. Meski demikian, perkembangan evaluasi MSCI masih berpotensi memengaruhi persepsi investor dan arus modal asing.
Sementara itu, pergerakan Bitcoin masih dipengaruhi berbagai faktor makroekonomi global. Sejumlah faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar antara lain prospek inflasi Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah, arus dana investor, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.
Menurut Yudhono, pasar saham dan aset kripto memiliki fungsi serta karakteristik yang berbeda. Pasar saham berperan dalam mendukung pembiayaan perusahaan dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan aset kripto membuka peluang inovasi melalui pemanfaatan teknologi blockchain.
Peluang Pengembangan Industri Kripto di Indonesia
Di tengah dinamika pasar keuangan, industri kripto dinilai memiliki peluang untuk berkembang melalui penguatan infrastruktur blockchain, pengembangan aplikasi keuangan digital, hingga tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA).
Tokenisasi memungkinkan representasi aset dalam bentuk token digital berbasis teknologi blockchain. Inovasi ini berpotensi memperluas pilihan instrumen keuangan sekaligus menghadirkan pendekatan baru dalam kepemilikan dan pengelolaan aset.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,17% ke RP 18.022 per Dolar AS pada Rabu (21/10)
“Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat pasar modal sekaligus mengembangkan industri aset digital secara bertanggung jawab. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Dengan regulasi yang jelas, tata kelola yang baik, dan perlindungan konsumen yang kuat, inovasi keuangan digital dapat menjadi bagian dari perkembangan ekosistem keuangan nasional,” tutur Yudhono.
Meski menawarkan peluang pengembangan, aset kripto tetap memiliki risiko investasi yang perlu diperhatikan. Fluktuasi harga yang tinggi, perubahan likuiditas pasar, serta dinamika kebijakan moneter global dapat memicu pergerakan harga yang signifikan dalam waktu singkat.
Karena itu, pertumbuhan industri kripto perlu diimbangi dengan penguatan literasi keuangan dan pemahaman investor mengenai risiko. Investor juga perlu mempertimbangkan tujuan investasi, jangka waktu penempatan dana, serta kemampuan menanggung kerugian sebelum mengambil keputusan.
Yudhono menambahkan, peningkatan kepercayaan investor harus berjalan seiring dengan pengembangan inovasi keuangan. Pemahaman terhadap karakteristik setiap aset, diversifikasi investasi sesuai profil risiko, dan penerapan tata kelola yang baik menjadi faktor penting untuk membangun ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














